DaisypathAnniversary Years Ticker
Lilypie 6th to 18th PicLilypie 6th to 18th Ticker
Lilypie 3rd Birthday PicLilypie 3rd Birthday Ticker
Tampilkan postingan dengan label cerita abang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita abang. Tampilkan semua postingan

Selasa, Maret 30

abang di sunat..

akhirnya keputusan ini diambil juga oleh kami. yup.. abang fathir di sunat!.
sebetulnya berat bagi abah dan ibu untuk memutuskan hal ini, apalagi umur abang fathir baru saja menginjak 8 tahun. ditambah selama ini abang masih sangat manja, lututnya lecet dikit saja jalannya langsung pincang kayak yang habis dioperasi saja ^__^! , tapi mengingat pipisnya yang sempat berdarah hingga 2 kali, dokter sempat menyarankan agar abang segera disunat.



untung saja abang mendapat libur kurang lebih 4 hari, karena sekolahnya memfokuskan pada persiapan ujian nasional bagi anak smp istiqomah -sekolahnya abang sekarang-.
jadi hari senin, 29 maret kemarin, abang menjalani operasi sunat di rs. balikpapan husada balikpapan.

tadinya kami fikir, salah satu dari kami bisa ikut masuk kedalam kamar operasi. tetapi rupanya tidak. abang saja yang diperbolehkan masuk keruang operasi. ibu dan abah hanya diperbolehkan menunggu diruang tunggu.
sedih juga sih.., soalnya abah dan ibu tidak bisa memberi dukungan secara langsung pada abang disaat hari terpenting dalam hidupnya itu. tapi mau gimana lagi, peraturannya telah dibuat seperti itu.
untung saja, kami masih bisa menitipkan kamera pada salah satu perawat disana. untuk sekedar dokumentasi abang saat disunat.

abang masuk kedalam ruang operasi ditemani seorang suster yang sangat ramah tanpa banyak bicara. 30 menit lamanya operasi sunat itu berjalan. ibu dan abah hanya bisa bedoa dan berharap didepan pintu ruang operasi.

akhirnya operasi itu selesai juga. kami diperbolehkan menemui abang diruang pemulihan sementara. abang terlihat sedikit pucat. sesekali abang meringis kecil. setelah diberi resep obat, abah langsung membayar biaya operasi dan menebus beberapa obat. setelah itu kami langsung pulang.

sesampainya dirumah, abang langsung tiduran. karena disuruh dokternya untuk banyak beristirahat. tapi namanya juga bang fathir, susah banget disuruh diam, jadinya sampai sekarang (hari kedua) luka bekas operasinya masih basah dan mengeluarkan sedikit darah fhhhh... :-(

hmm...ada yang tahu nggak cara mengeringkan bekas operasi sunat dengan cepat..????


(foto2 nya nyusul deh... )







Baca selengkapnya......

Kamis, Februari 25

abang b'day

Tanggal 25 februari kemarin abang fathir berulang tahun. kali ini ulang tahunnya tidak dirayakan seperti biasanya (karena permintaan abang fathir sendiri). jadi ibu hanya membuatkan kue ulang tahun saja untuk abang.



kuenyapun sederhana saja, terbuat dari brownis coklat lapis keju dengan toping whipping cream diatasnya. tapi soal rasa nggak kalah dengan cake bikinan hotel bintang 5 dong... uenak tenannnn *narsis.com* ^___^!



temennya abang yang diundangpun seadanya saja. cuman beberapa anak tetangga yang sedang bermain-main didepan rumah saat itu.




karena tidak ada rencana untuk dirayakan, jadi ibu hanya menjamu para tamu kecil -temennya abang dan adek- itu dengan kue ulang tahun dan sirup leci yang ada dirumah.
acaranyapun hanya sebentar saja, tidak lebih dari 1 jam.
tapi abang -terutama adek- terlihat antusias saat meniup lilin ulang tahunnya. raut wajah mereka terlihat berbinar ketika lilin ulang tahun tersebut berhasil dipadamkan.
begitupun anak-anak yang ada diruangan itu, ikut tertawa-tawa saat melihat adek yang terlihat kesulitan meniup lilin ulang tahunnya abang.

sungguh.., pemandangan yang menakjubkan bagi ibu yang melihatnya. hanya dengan sebatang lilin saja sudah bisa membuat wajah anak-anak itu berseri-seri.
jadi..., ibu tidak mengerti, kenapa acara tiup lilin itu tidak diperbolehkan..? apa yang salah dari moment itu..? tho ibu hanya melihat ekspresi kegembiraan saja saat itu, tidak lebih.


sorenya setelah acara tiup lilin bersama anak tetangga sekitar, kami semua langsung berangkat menuju hotel novotel balikpapan untuk menginap. biarpun hanya semalam.. tapi lumayan deh untuk seru-seruan bareng disana. lucu juga sih... kayaknya kami cuman pindah tidur aja disana... soalnya letak novotel tidak jauh dari rumah hehe..

tapi abang dan adek senang banget kalau diajak nginep disana, soalnya mereka bisa berenang di kolam renang dan di bathtub sepuasnya.







Baca selengkapnya......

Jumat, Februari 5

"bu, .. pipis abang berdarah..!".

"buuu, pipis abang berdarah..!", teriak bang fathir dari dalam kamar mandi. sontak ibu langsung berlari menuju kearah kamar mandi. benar saja, air kloset kamar mandi terlihat semerah darah, percikan darah segar lainnya tersebar disekeliling kolset dan lantai. hati ibu terkulai lemas...

saat itu juga abang fathir dibawa ke emergency rs balikpapan husada. hari itu malam senin, sekitar jam 7.30an. abang langsung mendapat perawatan medis dari perawat dan dokter yang jaga di ruang gawat darurat rs balikpapan husada.



abang fathir dianjurkan melakukan tes urin saat itu juga, untuk melihat berbagai kemungkinan yang terkandung dalam urinnya tersebut. lagi2 abang mengeluarkan darah segar dalam pipisnya. tapi reaksi abang tetap tidak berubah, dia masih ketawa-ketawa cengengesan sambil sesekali bertanya "bu.. abang nggak mau disuntikkkk..abang takuutt.." sahutnya berkali-kali. ibu tidak bisa berkata apapun, hati dan fikiran ibu masih diliputi beribu pertanyaan dan rasa cemas yang menyesakan dada.

kurang lebih setengah jam lamanya abah, ibu, abang dan adek menunggu didepan ruang laboratorium. rentang waktu yang terasa sangat lama bagi abah dan ibu. abang mulai terlihat sedikit lemas, dia tergolek dikursi penunggu sambil sesekali menggumam "abang takut.." sahutnya perlahan. abah terus membelai kepala abang yang bersender diatas pangkuannya, menjawab pertanyaan-pertanyaan bang fathir dengan raut wajah yang terlihat dipaksakan. sementara ibu tidak kuasa menahan tetesan air mata yang tidak henti-hentinya memenuhi ruang kelopak mata ibu. ibu lalu berjalan berputar-putar dikoridor rumah sakit untuk menghindar tatapan bang fathir dan juga abah, berusaha menenangkan diri dan berdoa bahwa semuanya akan berakhir dengan baik.

akhirnya hasil tes urin itupun siap. dokter jaga membacakan hasilnya didepan abah dan ibu. sementara abang dan adek terlihat asyik bermain berdua. dokter jaga itu mengatakan bahwa hasil dari tes urin tersebut menyatakan bahwa urin abang positip protein. angkanya menunjukan 250. lalu dokter itu menjelaskan berbagai kemungkinan yang bisa menyebabkan urin terdeteksi mengandung protein. salah satunya yaitu gagal ginjal yang membuat hati abah dan ibu bertambah lemas. tapi untuk lebih memastikannya dokter menganjurkan untuk melakukan tes lain dengan dokter spesial ginjal besok harinya. dan menyarankan agar abang untuk banyak beristirahat dulu dirumah. saat itu abang hanya diberikan obat antibiotik claneksi oleh dokter jaga tersebut. akhirnya kamipun pulang.

sesampainya dirumah abang langsung ibu beri obat antibiotik. malam itu abang kembali pipis berdarah, ruang kamar mandi sampai tercium sedikit bau amis. dalam hati ibu hanya menjerit "ya Allah... tolonglah anaku..". badan ibu sedikit bergetar, tanpa sadar ibu langsung keluar kamar mandi -memanggil abah untuk menggantikan posisi ibu menyirami ceceran darah dilantai dan kloset kamar mandi. ibu tidak sanggup melihatnya. ibu langsung masuk kamar dan menangis perlahan.

karena hari sudah larut malam dan juga karena kecapean, abang dan adek langsung tertidur pulas.

besok harinya, saat bangun pagi abang langsung masuk kamar mandi. pipisnya tetap berwarna darah. dan itu ke-4 kalinya -sejak semalam- pipis abang berdarah.

sekitar jam 9 pagi, kami sudah berada lagi di rs balikpapan husada, untuk bertemu dengan dokter spesialis ginjal disana. dokter tersebut langsung memeriksa seluruh badan bang fathir setelah selesai membaca hasil tes semalam. kemudian dokter tersebut menyarankan agar abang dirontgen, untuk melihat kemungkinan batu yang terkandung dalam kantong kemih abang.

kurang lebih 1/2 jam kemudian foto rontgen tersebut selesai, kami langsung masuk kembali keruang dokter tsb. dokter lalu memeriksa dan mengatakan bahwa semuanya baik2 aja. lalu dokter mengemukakan diagnosa awal penyakit abang tersebut dikaitkan dengan bukti secara fisik. abang didiagnosa ginjalnya terkena virus bukan gagal ginjal seperti perkiraan awalnya. karena melihat tanda2 fisik abang yang terlihat segar bugar, dan ceria. untuk lebih memastikannya abang diharuskan menjalani tes urin lagi 3 hari kemudian. sementara itu abang diberi suplemen untuk meningkatkan daya tubuh. abah dan ibu terlihat sedikit lega.

setelah 4 x pipis berdarah, pipis abang mulai terlihat mengalami perubahan, warna darahnya semakin memudar dan akhirnya sama sekali tidak terlihat. pipis abang kembali terlihat normal -bening. ibu dan abah sangat besyukur jadinya.

3 hari kemudian. kami kembali mengunjungi dokter yang sama, untuk melakukan tes urin-nya abang. dan hasilnya sangat memuaskan/melegakan kami semua. urin abang negatif protein.
(Alhamdulillah hirabbil alamin... puji syukur kehadiratmu ya Allah.. atas dikabulkannya doa-doa kami semua)


catatan penting :

seminggu sebelum kejadian pipis berdarah ini abang terkena batuk pilek. secara fisik abang tidak terlihat parah, jadi ibu tidak memberikan obat2an flu pd abang. tetapi dokter spesialis ginjal menduga bahwa virus tersebut telah menyerang fungsi ginjal abang untuk beberapa saat lamanya. karena beliau tidak melihat adanya batu ataupun pembengkakan pd tubuh abang seperti yang dialami oleh penderita nefrotic syndrom atau gagal ginjal lainnya.

jadi jika tiba2 anak anda pipis berdarah tanpa sebab, tanpa rasa sakit, tanpa disertai perubahan fisik yang mencolok, tidak usah panik dan cemas yang berlebihan. mudah2an bahwa pipisnya tersebut hanya sementara saja. oleh karena itu tetap berikan anak anda makanan dan minuman yang menyehatkan, suplemen peningkat daya tahan tubuh anak, banyak beristirahat agar daya tahan tubuh anak cepat meningkat/pulih. tapi tetap untuk lebih meyakinkannya segera bawa anak anda ke rs terdekat.
















Baca selengkapnya......

Senin, Juli 27

dongeng

ibu : "malem ini abang dan adek yang cerita yah..", "adek yg mulai duluan.."?



adek :

"cuatu ali.. adek keluar rumah... trus adek liat ibu ayam lompat-lompat, larinya lompat2.
ibu ayam lagi cari makan, cari ikan, cari daun-daun.
trus biawaknya sembunyi didalam daun..
trus ayamnya digigit, kakinya berdarah
sama abahnya fikri diobati tapi obatnya ga masuk kedalam badan ayam, jadi jalannya masih lompat-lompat, udah..!"



ibu : "oh gitu ya dek ceritanya, seru banget yah...nah sekarang giliran abang.."


abang :


"judulnya : ulat kecil dan semut yang sombong"


"suatu hari ada seekor ulat kecil, ulat ini sering diledekin sama semut2 yang badannya besar, katanya : "aku nggak mau main sama kamu, karena jalanmu pelan".
trus ulat kecil ini makan banyak2.
abis itu ulat kecil nyamperin semut2 besar. "hai semut kita main yuk..". semutnya langsung pada lari.
trus ulatnya makan lagi yang banyak. tapi semut besarnya masih suka ngeledekin.
trus ada juga semut yang sama kecil. keciiiilll banget. dan jalannya pelan. semut kecil dan ulat kecil itu berteman.
karena ulat kecil itu makan terus. jadinya sekarang badannya besar.
trus ulatnya ngantuk "hoeamm..aku ngantuk.. aku bobo dulu ya.."
trus ulatnya bangun "oh aku ada dimana..?".
trus ulatnya tinju2.
trus kepompongnya robek. ulatnya keluar.
trus ada angin yang sangat besar "huaaa aku terjatuh.." teriak ulat.
tapi ulatnya nggak jatuh. soalnya sekarang sudah jadi kupu2 yang cantik dan besar.
trus semut2 besarnya jadi malu.
trus akhirnya semut besar, kupu2 dan semut kecil berteman semuanya"


ibu : " wow seru banget bang, abang pandai banget bercerita yah.."


abang : "sekarang giliran ibu yg cerita"


ibu : "iya ibu akan cerita tapi nanti kalau pas lagi libur ya.."






Baca selengkapnya......

Selasa, Februari 24

Flash back (hari jadi abang..!)




malam itu -ibu ingat- ibu diwajibkan berpuasa karena besoknya ibu akan menjalani operasi cesar. Ada abah yang menemani ibu didalam kamar paviliun RS yang bersebelahan persis dengan ruang emergency. Berbagai perasaan berkecamuk dalam dada ibu. Ada senang, kadang cemas, tapi selebihnya ibu merasa takut. Takut operasi tersebut tidak berjalan sesuai rencana, takut menerima kenyataan bahwa bayi yang akan dikeluarkan melalui lubang diperut tidak sesuai keinginan.. takut sesuatu yang tidak ibu ketahui akhir cerita selanjutnya..


Seolah mengerti, abah terus berdiri disamping ibu, memegang tangan ibu, dan bercerita banyak tentang hal-hal yang lucu, tentang "si kucik-kucik" -panggilan sayang pada calon bayi dalam perut ibu-, tentang kumpulan nama yang sudah ibu dan abah persiapkan jauh-jauh hari, rencana kedepannya, dan banyak lagi...



Besoknya, sekitar jam 9 pagi
ibu sudah masuk kedalam ruangan bedah, hanya sehelai kain yang menutupi badan ibu. dan dada ibu mulai bergemuruh lagi..
saat itu punggung bawah ibu disuntik salah satu dokter yang ada di ruangan tersebut.
setelah itu ibu hanya berbaring pasrah dibawah lampu-lampu bulat yang menyorot panas diatas badan ibu.


Tidak berapa lama, perut ibu seperti diguncang-guncang, kadang pelan kadang agak keras, sampai badan ibu bergoyang-goyang tapi ibu tidak merasakan sakit sedikitpun, ibu tidak tau apa yang terjadi dibagian bawah perut ibu saat itu karena tertutup kain yang dipasang dibawah dada ibu, tetapi para dokter dan perawat itu masih tetap berbicara, ngobrol dengan riangnya, kadang tertawa-tawa membahas sesuatu yang tidak ibu mengerti.


Beberapa menit kemudian, tiba-tiba ibu mendengar jeritan kecil dari arah dokter-dokter itu, tangisan seorang bayi yang melengking tinggi. Jantung ibu seperti berhenti berdetak mendengarnya. "benarkah itu tangisan bayi..? tangisan bayiku..?" bathin ibu tidak percaya.


Jantung ibu terus berdegup kencang, wajah dan mata ibu terasa panas. fikiran ibu berputar-putar, sekonyong-konyong salah satu suster itu menyodorkan seorang bayi yang telah terbalut kain ke arah ibu. "alhamdulillah..bayinya laki-laki bu..selamat ya.." sahut suter itu.


Ibu diam terpaku. Wajahnya yang bulat mungil terlihat putih pucat, matanya tertutup rapat, sejumput rambut halus menutupi dahi dan kepalanya. muka ibu terasa semakin panas, ibu tidak kuasa menahannya lagi, akhirnya air mata ibu meleleh. "Allahu Akbar.." bisik ibu perlahan.


Lalu perut ibu seperti ditarik-tarik lagi. dan dokter-dokter itu masih tetap tertawa-tawa. Diselingi suara berisik, seperti suara yang keluar dari sedotan minuman yang sudah hampir habis airnya. Srootttt...


dinginnya AC menyorot langsung ke arah badan ibu yang setengah terbuka, ibu menggingil kedinginan, awalnya pelan lama kelamaan ibu menggigil hebat. "ibu ngerasa sakit kah..?" tanya dokter itu. "ngg..nggaak...sakit, cuman dingin aja.." sahut ibu sambil terus menggigil. bahu ibu sampai berguncang-guncang jadinya. "matikan AC-nya.." perintah dokter tersebut. lalu dokter itu memerintahkan memberikan sesuatu pada ibu -tidak tahu apa-, hanya saja ada sesorang yang memberi suntikan, lalu orang itu bicara dengan tidak jelas "fly..." "baru dikasih ... efeknya...apalagi kalau...." suara orang tersebut semakin tidak jelas terdengar, seberkas cahaya terang menyilaukan mata ibu, dan ibu sudah tidak ingat apa-apa lagi setelahnya.


Saat terbangun, perut ibu terasa mual "dok saya mau muntah.." sahut ibu pelan. "muntahin saja bu.." sahut dokter itu. seorang perawat meletakan selembar handuk dibahu ibu, tetapi tidak sedikitpun isi lambung yang keluar, ibu hanya meludah air liur yang terasa sangat kental saja.


Tidak lama kemudian, ibu dibawa keluar dari ruangan bedah, menuju ruangan pemulihan, saat akan masuk keruangan pemulihan tersebut ibu berpapasan dengan abah, mamah, mamah mertua, apa, dan banyak lagi wajah-wajah yang ibu kenal lainnya. abah memegangi tangan ibu terus, "ibu cantik sekali hari ini.." bisik abah perlahan ditelinga ibu. Lalu tiba-tiba ibu teringat, bayi mungil yang ibu lihat diruangan bedah, "gimana bayinya..??" gumam ibu pada abah. "sempurna... ganteng banget kayak abah.." bisik abah lagi sambil tersenyum "sekarang adek bayinya dirawat diruang bayi dulu.." sahut abah lagi. Ibu tidak berkata apa-apa lagi, ibu masih merasa sangat mual, pening, lemas dan kesemutan.


****


Besok, bayi mungil berwajah pucat itu akan genap berusia 7 tahun. Abah, ibu, dan adek sudah memberinya ciuman dan pelukan ulang tahun tadi malam. Begitu juga nenek, kakek, ninin dan aki sudah meneleponnya untuk memberi ucapan. Dan si bayi tersebut yang sekarang sudah tumbuh besar dan berkulit tidak pucat lagi, hanya terbengong-bengong, "lho aku ulang tahun ya..?" sahutnya sambil tersenyum lebar.


"met ulang tahun abang fathir, mudah2an jadi anak yang sholeh, panjang umur, sehat selalu, berbakti pada orang tua, sayang pada adik dan keluarga, berguna bagi agama, nusa, dan bangsa, dan selalu dalam lindungan Allah SWT. amien"


***


Perayaan Hari Ulang Tahun abang fathir



Minggu sore, tanggal 1 Maret ada acara syukuran ulang tahun abang fathir dirumah. harusnya sih dirayakan tanggal 25 februari kemaren, cuman karena ga memungkinkan untuk dirayakan pada hari sekolah/kerja, jadinya diundur ke hari minggu.






rencana awalnya, ibu hanya akan ngundang beberapa teman main sepedahannya abang dekat rumah, itupun sambil dadakan saja. tetapi karena berbagai alasan, akhirnya ibu mengundang beberapa anak teman dekatnya ibu dan abah juga.






seperti biasa, kue-kuenya ibu yang buat. termasuk kue ulang tahunnya abang fathir. Mungkin karena perubahan rencana yang mendadak itulah ibu ngerasa agak keteteran mempersiapkan segala sesuatunya. utamanya saat buat kue ulang tahunnya abang. biasanya ibu buat kue ultah itu pada siang atau sore hari dan malamnya kue tersebut baru akan dihias. jadi ada banyak waktu luang untuk berfikir. berhubung ibu terlalu disibukan dengan urusan makanan yang lain. akhirnya baru jam 10 malam kue ulang tahun itu baru ibu buat. dan jam 12 malam kue itu baru dihias.fhhhh...





karena kue ultahnya agak kecil jadi ibu memutuskan untuk membuat kue yang kedua untuk dibagikan pada anak-anak dan tamu undangan lainnya. mungkin karena cape, bercampur stress juga akibat proses pembuatan kue ultah pertama yang super duper ngeribetin itu. ibu mati ide saat bikin kue ultah kedua. alhasil anggur sisa bikin kue pie yang nganggur dikulkas langsung ibu tancepin keatas kue tersebut. jadinya..? ya gitu deh...penampakannya lumayan aneh bin norak ...menul-menul ga beraturan..huaaa... ibu pengennn nangisss jadinya.



"udahlah bu..ga usah difikirin...santey ajah...kan untuk sendiri kuenya.." sahut abah menghibur hati ibu yang lagi gundah gulana (ceilah..)
ibu yang duduk selonjoran, antara ngantuk berat, capek, kesal, depresi juga (halah..) akhirnya pasrah dan menanti waktu pagi dengan tidak bergairah.






betul saja, besoknya -saat abang fathir bangun pagi dan melihat semua kue-kue ultahnya - abang spontan bilang "ih bu koq aneh kue nya..", "tapi abang suka kue yang satunya lagi (yang menul-menul itu -red), kayak kerajaan.." sahutnya lagi. walah apanya pula yang kayak kerajaan bathin ibu geli.
tapi biarpun kue ultahnya terlihat aneh, abang, adek dan anak-anak yang lain yang tidak sepeduli ibu pada kue ultah, terlihat gembira sore itu.





acarnya dibuka oleh abah, diawali oleh pembacaan doa oleh abang fathir, dan diisi tausiah berupa dongeng harimau dan para binatang hutan lainnya oleh Om Yunus, ditutup oleh acara tiup lilin dan makan bareng.






***


makasih banyak untuk mbak lukie yang sudah bantuin banyak ngedesain edible picturenya yang keren, jadinya ga sebanding dengan kuenya yang terlihat aneh hehehe..
untuk para tetanggaku yang sudah ikut2an sibuk hari itu, semua temennya ibu dan abah yang sudah hadir, juga semua temennya abang fathir yang semangat datang ke rumah. makasih banyak, jazakumullahu khairan katsiran


(kayak pidato penerimaan piala citra ajah nih hihihih...)










Baca selengkapnya......

Jumat, Februari 13

Hari bersedih

"bu sekarang adalah hari bersedih" ujar bang fathir mengagetkan ibu. Ibu yang sedang asyik menyetir mobil menoleh melalui kaca spion diatas kepala ibu. "kenapa bisa gitu..?" tanya ibu penasaran sambil memperhatikan raut muka bang fathir sesaat. "tadi ada perpisahan ibu guru..., bu umi pindah kelas ..." sahut bang fathir lagi. titik-tikik kecil air menghiasi ujung hidungnya dan bagian atas bibirnya.


Sekilas sosok bu Umi -wali kelasnya bang fathir- berkelebat dalam benak ibu. Seorang perempuan yang memiliki wajah ramah dan sabar, seorang guru yang bisa berkata tegas disaat saat tertentu, juga seorang ibu bagi semua muridnya ketika dikelas.





"oh... memang bu umi pindah kekelas mana..?" tanya ibu sedikit kaget -dan sedikit merasa kehilangan juga- tidak menyangka mendengar kabar sedemikian cepat tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. "ga tau...." bahu bang fathir bergerak terangkat keatas. "tadi temen-temen abang banyak yang nangis.., ada yang bersuara gede banget..., ada yang setengah besar..." ujarnya lagi.


"trus...abang nangis juga..?" lagi-lagi ibu memperhatikan bang fathir melalui kaca spion. "nggak....,sedikit aja sih...cuman.... hiks..gitu ajah.." sahutnya sambil memperagakan menarik nafas berat. "abang nangisnya dalam hati saja.." suaranya memelan. Ibu tidak berkata apapun. tapi sesekali ibu masih memandangi bayangan bang fathir yang serius memperhatikan situasi dibagian luar kaca jendela mobil hitam transparan .



"ga enak yah bu berpisah itu.." ujarnya tiba-tiba, suaranya terdengar serak. Sejenak ibu memandangi bayangan bang fathir lagi. tidak menyangka bahwa kalimat yang barusan ibu dengar itu keluar dari bibirnya yang belum genap berusia 7 tahun. "memangnya abang merasa gimana..?" tanya ibu pelan menyembunyikan emosi. "erm...ga tau..ga enak aja..." abang fathir sedikit menunduk sambil mempermainkan jemarinya, suaranya masih terdengar serak dan sedikit bergetar. "hei..abang kan masih bisa ketemu bu Umi setiap harinya..., diruang guru...atau abang bisa main ke kelas barunya bu umi kalau abang mau.." suara ibu terdengar riang. "kelasnya bu Umi nggak di Istiqomaaahhh lagi buuuu..." ucapnya jengkel "besok bu Umi udah ga masuk sekolah lagi...." nadanya masih terdengar antara jengkel dan sedih.

"eh tadi bu umi kasih kenang-kenangan lho buat semuanya.." tiba-tiba suara abang fathir berubah riang. tanpa ditanya abang langsung nyeroscos. "semuanya dikasih es krim dan kacang ijo.." abang fathir terkikik geli -membayangkan larangan ibu yang dilanggarnya dengan sukses hari ini-. fhh ibu menahan nafas, tapi mengingat peristiwa yang sudah dialami bang fathir disekolah tadi cukup membuat ibu sedikit ikhlas untuk melupakan larangan -mengkonsumsi es disaat sedang batuk pilek- itu sesaat.



"trus abang dan teman-teman ngasih kenang-kenangan apa sama bu Umi..?" tanya ibu tenang. "ga ngasih apa-apa..", "abang cuman bilang makasih aja..., dua kali.." sahut abang fathir datar. "kenapa abang bilang makasih...?" tanya ibu lagi. "erm...karena abang sudah dikasih ilmu....dikasih lain-lain...dikasih banyak deh..." suara abang memelan dan bergetar lagi. "teman abang yang nangisnya gede banget malah ga bilang makasih.., abang aja yang bilang makasih..aneh..." ceroscosnya lagi lebih ringan.



"bang kalau abang dikasi uang sama ibu, abang mau beliin apa buat bu umi..?" tanya ibu sambil memperhatikan arus lalulintas didepan. "ga tau..., lagian bu umi kan besok udah ga masuk sekolah lagi.." ujarnya datar. ibu tidak berkata apa-apa lagi. hanya berkonsentrasi mengemudi. setitik air menggenang dipelupuk mata ibu.






Baca selengkapnya......

Senin, Agustus 4

pilih pahala atau uang...?

Kadang persediaan bumbu dapur adakalanya habis, jika sudah begitu ibu harus membelinya di tetangga sebelah yang kebetulan berprofesi sebagai penjual sayuran.


Suatu hari ketika sedang masak, ibu minta tolong pada bang fathir untuk membelikan bumbu dapur yang sudah habis. Saat itu abang sedang asyik-asyiknya nonton tv.



"bang tolong dong, beliin dulu tomat ke rumah "mbah".. (panggilan tetangga sebelah)..", seru ibu sambil memberikan uang lembaran ribuan pada bang fathir. "sebentar bu..." jawab bang fathir, matanya tidak lepas-lepas dari film kartun kesukaannya. "ayo..., lari dulu kerumah mbah sebentarrr ajaa...., nanti boleh nonton film lagi.." bujuk ibu. "ga mauuu.... nanti aja...." rengek bang fathir. "ya sudah, film nya ibu matikan dulu, nanti setelah tomatnya dibeli, baru ibu nyalakan lagi..". ibu langsung mematikan tv saat itu juga, dan kembali mengerjakan kerjaannya didapur. "ughhh.... ibu nakallll....!!" teriak bang fathir sambil menggenggam uang pemberian ibu dan berlari menuju rumah mbah.



"ini tomatnya.." teriak bang fathir masih gusar."terimakasih ya abang sudah membantu ibu..". Ibu langsung membawa belanjaan tomatnya kedapur. Dan bang fathir-pun kembali melanjutkan acara nonton televisinya lagi.



Begitu terus, setiap ibu minta tolong pada bang fathir, ibu dan abang harus berselisih dulu. Bahkan kalau sedang tidak mau, bang fathir tidak akan menuruti perintah ibu tersebut. Kalau sudah begitu, maka mau tidak mau akhirnya si mbak yang akan pergi belanja ketetangga sebelah. Hingga suatu hari ibu mendapatkan ide...


"siapa yang mau mendapatkan pahala...??" teriak ibu sambil mengacungkan telunjuknya keatas.
"abang mauuu...."teriak bang fathir sambil mengangkat tangannya keatas, "adek mauuuu..." teriak adek tidak kalah nyaring. "ya sudah, dua-duanya akan dapat pahala kebaikan kalau mau membantu ibu beliin jahe dirumah mbah.." sahut ibu sambil tersenyum. "sini biar abang aja yang beliinya.." sahut bang fathir sambil menyambar uang yang ibu pegang, lalu abang berlari menuju rumah mbah. "adek ikutt..." teriak adek sambil berlari mengikuti abang fathir dari belakang. "hati-hati ya..., adek nya dijagain bang" teriak ibu dari pintu rumah. hmmm... ibu terlihat senyum-senyum sendirian


Pulang dari mbah, abang dan adek terlihat bergandengan tangan. "ini bu jahenya.." sahut bang fathir terengah-engah. "wahh... terimakasih banyak yah... ibu senang sekali... pasti abang dan adek akan mendapatkan pahala yang sangat besar dari Alloh..." suara ibu terdengar riang. "besarnya seberapa bu..?, sebesar gudang kah..?" tanya bang fathir, matanya terlihat berbinar. "ermm... sebesar gunung..", jawab ibu setelah berfikir sejenak. "waaawww.... besar bangetttt..." seru bang fathir tertawa-tawa kesenangan.



Setelah itu abang fathir kembali melanjutkan kegiatannya lagi. Saat itu ibu merasa sangat senang, karena ibu bisa menyuruh bang fathir tanpa harus dengan ngomel-ngomel terlebih dahulu.


Trik "belanja berpahala" itu terus ibu lakukan dikemudian hari. Dan selama itu abang fathir melakukannya dengan senang. Hingga suatu hari, sepulang berbelanja dari rumah mbah.



"bu... minta uang yahh, abang kan sudah membantu ibu...", tangannya menengadah kearah ibu. "memangnya untuk apa uangnya..?" tanya ibu, "aku mau jajan.." jawab bang fathir. Untuk sementara waktu ibu terlihat berfikir, lalu ibu mengeluarkan uang dari dompet, selembar uang ribuan. "kalau bang fathir minta uang, ibu akan memberikannya sekarang juga,.... tapi itu namanya pamrih, artinya bang fathir minta imbalan setelah menolong ibu, jadi mungkin pahalanya akan hilang, karena menolong itu tidak boleh ada pamrihnya, nah sekarang abang mau yang mana... uang kah atau pahala yang besar...?" tawar ibu sambil melambai-lambaikan uang seribu rupiah.



"ah....mana pahalanya...ga keliatan..., ga ada kan...??" suara bang fathir terdengar serak, matanya terlihat sedikit berkaca-kaca. Melihatnya ibu jadi merasa kasihan. "pahala tidak bisa dilihat sekarang, tapi nanti saat kita sudah meninggal, nanti akan ditimbang kebaikan dan keburukan, kalau pahala kebaikan lebih besar dari keburukan, maka kita akan masuk syurga, tapi kalau keburukannya lebih besar dari pahala kebaikan, maka kita akan dimasukan neraka. Jadi mumpung masih hidup kita harus menabung pahala sebanyak-banyaknya, biar timbangan pahala kebaikan kita menjadi berat..." sahut ibu sambil mengusap-usap kepala bang fathir yang masih terlihat kecewa.



"nah sekarang... abang mau pilih mana, uang.... atau pahala...?" ibu kembali menawarkan pilihan. "kalau mau uang, ibu akan beri uang ini sekarang juga..., tapi kalau abang mau pahala... Alloh yang akan memberinya". "pahala saja..." jawab bang fathir pelan sambil membalikan badan meninggalkan ibu. "Terimakasih banyak ya bang, Alloh pasti akan memberikan pahala yang sangat besar buat abang.." seru Ibu sambil menarik nafas panjang..


Sore hari,selesai mandi, abang fathir dan adek sudah terlihat rapi dan wangi. "ayo... sudah saatnya main keluar..., nih ibu kasih uang untuk jajan, boleh dibelikan apa saja, tapi adek nanti dikasih juga ya..." seru ibu. "cihuyy...., bu boleh beli permen..?" teriak bang fathir sumringah, "boleh.." jawab ibu sambil mengeluarkan uang 3 lembar ribuan, satu untuk adek, satu untuk si mbak, dan satu lagi untuk bang fathir yang sudah berbuat kebaikan hari ini.

Baca selengkapnya......

Minggu, Juli 20

Cita-cita..

Semua orang pasti pernah punya cita-cita, begitupun dengan ibu ketika masih kecil dulu. Ibu masih ingat berbagai cita-cita yang pernah ibu impikan, mulai dari ingin menjadi polisi lalulintas, karena saat itu ibu sedang senang-senangnya mengikuti latihan Polisi Keamanan Sekolah (PKS) sebagai kegiatan ekstra kurikuler sekolah. Kemudian cita-cita ibu berubah lagi yaitu ingin menjadi detektif cilik karena ibu begitu terpesona oleh cerita 5 Sekawan dan cerita detektif lainnya yang sering ibu baca. Lalu ibu pernah bercita-cita menjadi seorang pengacara karena waktu itu guru ngaji ibu pernah bercerita, katanya ; ada 2 golongan manusia yang pertama akan masuk syurga yaitu pemimpin yang bijak, dan hakim yang adil.



Saat itu ibu berfikir alangkah menyenangkan bila ibu bisa menjadi salah satu orang pertama yang bisa masuk syurga, dan akhirnya ibu memilih mejadi pengacara (saat itu ibu berfikir untuk menjadi hakim harus melalui tahapan sebagai pengacara terlebih dahulu) sebagai cita-cita ibu dimasa depan. Hanya cita-cita inilah yang selalu mendapat komentar dari apa (panggilan bapak-nya ibu), apa selalu bilang "jangan pernah bercita-cita menjadi pengacara, hakim, dan sejenisnya... karena berat pertanggung jawabannya diakhirat nanti.." tegas apa setiap kali ibu berbicara tentang itu. Sungguh sampai detik ini ibu masih belum mengerti arti dari ucapan apa. Mungkin ibu harus menjadi seorang pengacara terlebih dahulu agar memahami makna pesan apa tersebut. Seiring waktu ibu pernah juga bercita-cita menjadi dokter hewan, karena ibu selalu sedih ketika harus melihat ayam atau kucing peliharaan ibu jatuh sakit. Pernah juga bercita-cita menjadi wartawan, karena ibu membayangkan bisa berpergian kemana-mana mencari berita. Dan cita-cita yang agak bertahan lama yaitu ibu ingin menjadi ahli pertanian, karena ibu senang dengan suasana pedesaan, ibu senang bercocok tanam. Biarpun cita-cita ibu tidak ada satupun yang terwujud, tapi ibu tetap senang. Karena setidaknya ibu pernah berkeinginan sesuatu yang menyenangkan.


Lain halnya dengan cita-cita bang fathir, suatu saat abang pernah berkata "aku ingin menjadi supir truk balak .."(truk besar pengangkut kayu-kayu gelondongan), setiap ibu tanya cita-citanya bang fathir. "karena truk balak itu mobil yang hebat, kuat, dan besuaarrr..." lanjutnya lagi. Mendengar itu biasanya ibu akan berkomentar " kalau begitu abang harus pintar dan kuat, karena menyetir (mengemudikan) mobil besar itu lebih susah, butuh tenaga yang besar, jadi biar bisa menyetir abang harus banyak belajar, untuk menjadi kuat abang harus banyak makan yang bergizi..". Lain waktu abang pernah bercita-cita ingin menjadi supir mobil molen (mobil pengaduk semen), alasannya tetap sama karena mobil molen itu mobil yang hebat, besar dan kuat. Abang memang mengidolakan mobil besar, semua mainannya didominasi dengan mobil jenis besar. Pernah juga abang bercita-cita, "bu, kalau sudah besar aku ingin jadi masinis kereta api saja lah, soalnya kereta api itu hebat, bisa mengangkut banyak orang.." katanya suatu saat pada ibu, lagi-lagi ibu akan mengomentari dengan komentar sebelumnya. Lalu pernah juga abang fathir bercita-cita ingin menjadi pilot setiap selesai berpergian, alasannya lagi-lagi karena pesawat itu sangat hebat, besar dan kuat. Tidak berapa lama kemudian tiba-tiba abang ingin menjadi astronot setelah selesai dibacakan tentang antariksa. Lalu pernah juga abang bercita-cita ingin menjadi peneliti ketika abang fathir selesai membuka-buka buku ensiklopedia-nya, lalu pernah juga bercita-cita menjadi tukang bangunan setiap selesai nonton serial " Mega structure". Pernah juga abang bercita-cita jadi tukang parkir, alasannya, "enak..., banyak yang ngasih uang.." katanya sambil tertawa senang.


Suatu hari sepulang hari pertama bersekolah di SDIT Istiqomah abang berkata "bu, aku ingin jadi ustadz saja lah.." seru bang fathir sambil membuka baju seragamnya, tentu saja ibu agak sedikit kaget, karena cita-cita yang ini agak berbeda dengan bidang sebelumnya. "soalnya biar nanti aku bisa masuk syurga.." sahut abang lagi. Ibu hanya tersenyum mendengarnya, ibu tidak pernah mempersoalkan setiap cita-cita yang pernah diucapkan abang fathir. Paling ibu akan berkomentar hal yang sama yaitu : "abang harus pintar, dan kuat". Biarlah abang fathir memiliki segudang cita-citanya, karena setiap memikirkan cita-cita pasti sangatlah menyenangkan.

Baca selengkapnya......

Selasa, Maret 4

Si gigi ompong


Seminggu setelah bang fathir genap berusia 6 tahun, gigi bawah abang mulai goyang.




"bu gigi bawahku sakit, goyang-goyang terus.." cerita bang fathir sambil mengaduh ketika ibu menyuapinya makan. "walah, coba bang ibu periksa.." sahut ibu sambil meraba-raba gigi bawahnya abang. Rupanya gigi tengah bawah memang sudah bergoyang, mungkin saatnya abang fathir dicabut gigi sudah tiba. Ibu langsung berfikir keras, gimana caranya abang mau dicabut gigi tanpa harus dipaksa dan tanpa meninggalkan trauma ya?








Tiba-tiba saja ibu ada ide, saat ibu kecil dulu ada hal yang menarik ketika ibu harus dicabut gigi, saat itu mamah dan apa-nya ibu bilang "kalau gigi atas yang dicabut, nanti giginya harus dikubur, biar tumbuhnya lurus kebawah, tetapi kalau gigi bawah yang dicabut, maka si gigi yang copot itu harus dilempar ke atas atap, biar tumbuhnya lurus keatas". Jadi setiap gigi ibu mulai goyang yang difikirkan ibu adalah melemparnya atau mengubur si gigi itu. Walapun sakit dan selalu menangis setiap saat gigi ibu dicabut, tetapi ibu menjadi tidak sabaran untuk segera melakukan ritual setelah pencabutan.








Dari situlah akhirnya ibu menceritakan kembali apa yg sudah ibu alami waktu kecil. Saat diceritakan hal tersebut hanya satu kata yg terucap dari mulut kecilnya : "aneh...!!!" komentar bang fathir sambil tersenyum lebar. Tetapi dari senyumannya itu ibu tahu bang fathir tertarik untuk segera melemparkan giginya ke atas atap rumah.






***






Hari Sabtu siang, abang fathir sudah berpakaian rapi. Tidak biasanya abang fathir mandi dengan cepat. "ayo bu, katanya mau ke dokter gigi.." seru bang fathir, "iya.. sebentar.. ibu cari surat pengantarnya dulu.." jawab ibu sambil tersenyum.






Jam 3 sore, ibu sudah sampai diklinik gigi, dan langsung mendaftarkan bang fathir. Karena tidak ada pasien, jadi bang fathir langsung dipanggil ke ruangan dokter gigi.



Sesampainya diruangan, bang fathir terlihat sedikit ragu, bang fathir memang belum pernah masuk ke ruangan dokter gigi. Untung saja Pak dokter dan asistennya ramah sekali, sambil diajak cerita, tau-tau gigi bang fathir telah tercabut. "tuh ga sakit kan.." sahut pak dokter sambil mengusap-usap rambut abang. Bang fathir hanya tersenyum memperlihatkan bantalan kain kasa kecil digigi bawahnya.






Gigi kecil yang yang sudah copot itu terbungkus plastik kecil, tangan bang fathir menggenggamnya erat. Sambil menjilati lelehan es krim yang ibu belikan sebagai hadiah, bang fathir berkata "bu, aku hebat kan.. ? abang ga nangis kan...?". "iya.. abang hebat, itu tandanya abang sudah besar. Besok lagi kalau gigi abang goyang, kita cabut lagi di om dokter yang tadi, om nya pandai jadi nyabut giginya ga bikin sakit." jawab ibu sambil memperhatikan arah jalan pulang. Bang fathir yang duduk disambing ibu, terus berbicara gak henti-henti memperlihatkan satu giginya yang hilang.






Sesampainya dirumah, abang langsung berlari keluar mobil, "ayo bu, kita lempar giginya ke atas.." teriaknya, "tapi ibu yang melempar yah..." lanjutnya lagi. "iya, ibu yang lempar kali ini, tapi nanti abang yang melempar sendiri yah..." seru ibu sambil melempar gigi kecil abang ke atas genteng. Dan bang fathirpun tertawa senang.


(adek nebeng pamer gigi juga yah..)

Baca selengkapnya......