DaisypathAnniversary Years Ticker
Lilypie 6th to 18th PicLilypie 6th to 18th Ticker
Lilypie 3rd Birthday PicLilypie 3rd Birthday Ticker

Selasa, Mei 27

Semalam di Tenggarong





(NB : foto jembatan diatas diambil oleh Ngakan Nyoman Maesa Yuda


Judul diatas bukan judul sebuah lagu ya... tapi memang terinspirasi oleh lagu "semalam dicianjur", bedanya bahwa saya disini terpesona oleh kecantikan kota (pada malam hari) serta adat budayanya, dan berharap suatu saat bisa berkunjung kembali.




Setiap mendengar kata Kutai hal yang pertama kali muncul dalam memori saya adalah kerajaannya. Dahulu kala sekitar abad ke-5 Masehi diperkirakan adanya sebuah kerajaan Hindu pertama di Indonesia yaitu Kerajaan Kutai Martadipura yang berlokasi di seberang Kota Muara Kaman, dibawah pimpinan Sang Raja Mulawarman, putra dari Raja dari Aswawarman, cucu dari Maharaja Kundungga. Hal ini bisa dibuktikan dengan ditemukannya 7 buah prasasti yang ditulis diatas yupa (tugu batu) menggunakan bahasa sansakerta dengan tulisan huruf pallawa.

Pada abad berikutnya, sekitar awal abad ke-13, berdirilah sebuah kerajaan baru di Tepian Batu atau Kutai Lama yang bernama Kerajaan Kutai Kartanegara dengan rajanya yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325).


Dengan adanya dua kerajaan ini dikawasan Sungai Mahakam tentunya menimbulkan perselisihan diantaranya. Yang pada puncaknya sekitar abad ke-16 terjadilah peperangan yang pada akhirnya dimenangkan oleh Kerajaan Kutai Kartanegara pada kepemimpinan Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa. Raja akhirnya menamakan kerjaan taklukannya itu menjadi Kerajaan Kartanegara Ing Martadipura.

Sesuai dengan perkembangan berikutnya, ketika Islam masuk ke wilayah Kalimantan sekitar abad ke-17. Kerajaan Kutai menerima dengan baik ajaran ini. Selanjutnya munculah nama-nama Islami dalam anggota keluarga kerajaan. Sebutan Rajapun berubah menjadi Sultan. Sultan yang pertama kali menggunakan nama Islam adalah Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778).

Akh.. tapi saya tidak ingin membahas lebih jauh tentang sejarah Kutai Kartanegara, saat ini saya hanya ingin mereportasikan perjalanan wisata saya dan keluarga saja (ugh...senangnya.. ^_^ )

***

Karena penasaran ingin tahu lebih banyak tentang kota yang termasyhur pada zaman dulunya itu, saya dan abahnya anak-anak akhirnya memutuskan liburan panjang kali ini dengan mengunjungi Kota Kutai Kartanegara.



Berbekal peta dibarengi tanya kiri kanan, akhirnya kami berangkat juga menuju Tenggarong ibu kota Kutai Kartanegara.

Hari itu Kamis 2 Mei, langit terlihat sedikit mendung, udara tidak begitu panas (ntah apa karena kami didalam mobil ber-ac ya..?). Kami berangkat menuju arah Samarinda. Memasuki daerah Kutai Kartanegara (Kukar), sepanjang jalan yang kami lewati penuh dengan lubang dibahu kiri-kanan jalan. Jarak tempuh dari Samarinda-Tenggarong sebetulnya kurleb 40 km-an, hanya saja karena jalanan yang rusak serta sempit membuat perjalanan kami terasa sangat lama. Rumah-rumah sederhana berdinding kayu menghiasi jalan yang terbentang disepanjang Sungai Mahakam. Tidak ada istimewanya perjalanan kami saat itu, bahkan saya sempat curiga, betul ga sih arah jalannya..? Soalnya melihat kondisi jalan yang begitu tidak terbayangkan dalam benak saya bahwa nun jau disana terdapat sebuah kota yang cukup terkenal akan keindahan jembatannya.

Saya merasa kebenaran arah jalan yang kami tempuh ketika mulai memasuki Kota Tenggarong, ketika ruas jalan menjadi lebar -sangat lebar-, kontras dengan jumlah kendaraan yang melaluinya, jalan besar tersebut terlihat sedikit lengang jadinya.



Karena capek dan lapar, akhirnya kami berputar-putar mencari penjual makanan. Menurut pengamatan saya, sepanjang jalan besar itu hanya ada satu rumah makan yang terlihat paling besar diantara warung makan lainnya, yaitu : RM Padang (ugh.. nggak lah, jau-jauh ke Tenggarong masa maemnya masakan Padang sih..., secara kami dah kenyang makan masakan Padang semasa masih tinggal di Duri - Riau gitu lho...). Akhirnya kami memutuskan untuk makan ditempat lain, dan warung masakan Banjarlah yang kami pilih. Tempatnya kecil tetapi terlihat lebih bersih dibanding warung lainnya. Menu yang ditawarkan tentunya khas Banjar lah. Karena baru pertama kali makan masakan Banjar, jadi rasanya masih agak asing dilidah, tapi teteeppp habiss dong (wah ini karena lapar apa gembul ya..?hehe). Selesai makan, kami langsung menuju Hotel Singgasana (hotel terbesar satu-satunya-untuk saat ini), letaknya diatas perbukitan, dari hotel itu terlihat pemandangan Kota Tenggarong dan hutan disekitarnya.




Seperti halnya di pusat kota, suasana di hotel inipun sangat sepi, sepintas seperti hotel yg sedang tutup, tapi karena melihat sekuriti yang menjaga gerbang, dan beberapa motor karyawan yang terparkir, saya merasa ada segelintir orang didalamnya. Karena nggak ada penjaga pintu hotel, sambil celingukan saya membuka pintu tersebut, mencari para pegawai hotel didalamnya. Sunyi senyap yang terlihat. Beberapa detik kemudian salah satu resepsionis hotel itu akhirnya menyembul juga dari balik meja kayu besar didepannya. Sambil menyapa dengan senyum yang dibuat seramah mungkin "selamat sore bu..ada yang bisa saya bantu..?". Fhh... lega jadinya, ternyata ada juga orang di hotel itu.

Melihat dari bentuk dan isinya, sepertinya hotel ini masuk kategori hotel berbintang, berdasarkan plakat peresmian yang dipasang didinding, hotel ini diresmikan tahun 2003 yang lalu oleh wapres Hamzah Haz. Mungkin karena pengunjungnya yang sedikit, jadi pemasukannya pun sedikit juga, menjadikan hotel ini terlihat terbengkalai.


Malam harinya, setelah puas beristirahat, kami keluar untuk berjalan-jalan dan cari makan. Dari atas bukit, pemandangan Kota Tenggarong pada malam hari terlihat sangat cantik, lampu-lampu hias kota dan lampu sepanjang jembatan begitu berkilau keemasan, tidak disangka pemandangan kota yang kami lihat disiang hari sunguh jauh beda dengan apa yang terlihat pada malam hari. Dengan perasaan senang dan sedikit merasa romantis, kami meluncur turun menuju pusat kota.



Lampu-lampu hias berukuran besar beraneka bentuk dan warna menghias gedung-gedung pemerintahan yang berdiri megah sepanjang jalan besar. Begitu juga lampu-lampu penerangan sepanjang jembatan yang menghubungkan dua wilayah kota yang terpisah oleh Sungai Mahakam. Yang menariknya yaitu ditengah-tengah sungai terhampar sebuah pulau kecil, konon katanya pulau itu dulunya adalah sebuah kapal yang karam, kemudian berubah menjadi pulau, Pulau itu bernama Pulau Kumala, luasnya kurang lebih 8 Hektar, dikelilingi oleh pohon2 kecil juga beberapa wahana permainan, seperti sky tower, kereta gantung, boom-boom car, kereta api mini, ada juga beberapa cottage kecil yang dikelilingi oleh danau buatan, rumah adat dayak, dan replika candi lembuswana, sayangnya kurangnya biaya perawatan membuat hampir semua wahana permainan itu rusak, begitupun dengan cottage dan danau buatannya, terlihat sangat kotor dan terbengkalai. Untuk mencapai Pulau Kumala, kita bisa menyewa perahu motor kecil yang tersedia sepanjang pinggir sungai Mahakam, ongkosnya hanya Rp. 20.000 untuk sekali jalan. Sedangkan untuk biaya masuk pulau, kita dikenai biaya Rp. 5.000/ orang (kalau tidak salah). Disana juga tersedia mobil rekreasi dengan sopir sebagai pemandunya. Hanya dengan biaya Rp. 20.000/ mobil (ini diluar tip untuk pemandu yaa..) kita bisa berkeliling semua bagian pulau.





Selain Pulau Kumala, tempat rekreasi lainnya yang kami kunjungi yaitu Museum Mulawarman, Museum ini terbuka untuk umum, buka setiap harinya mulai dari jam 8 pagi sampe jam 4 sore, kecuali hari Jum’at buka hanya setengah hari saja, dengan ongkos masuk Rp. 2.500/ org dewasa kita bisa melihat kebudayaan rakyat Kutai mulai dari zaman dahulu sampai sekarang. Didalam Museum kita bisa melihat beberapa replica yupa berbahasa sansakerta serta patung sisa peninggalan jaman Kutai, ada juga beberapa foto2 sultan Kutai yang memerintah, pernak – pernik masyarakat pribumi (dayak) dan banyak lagi. Dibelakang Museum terdapat mesjid serta kompleks pemakaman sultan Kutai. Untuk yang ingin berburu souvenir jangan khawatir ya.., karena di belakang kompleks pemakaman raja-raja Kutai kita bisa menemukan beberapa kios yang menjual cendramata khas Dayak, ada juga beberapa batu mulia yang dijual disana, cuman namanya juga ditempat wisata, jadi harga yang dijual memang agak lebih mahal lah. Disamping Musium Mulawarman terdapat gedung planetarium, sayangnya saat kami berkunjung kesana, tempat itu sedang dalam perbaikan.



Setelah puas berkeliling Kota Tenggarong, waktu menunjukan jam 4 sore, abah memutuskan untuk kembali menginap, hanya saja kali ini kami akan menginap di Samarinda. Kota Samarinda lebih semerawut dan kotor dibanding Balikpapan, tidak banyak papan petunjuk jalan disana, jadi bagi kami sebagai tamu sangat menyulitkan kondisi seperti itu. Lebih 1 jam lamanya kami berputar-putar mencari hotel. Akhirnya abah membeli sebuah peta Samarinda di dekat lampu merah. ½ jam kemudian akhirnya kami sampai juga di Hotel Bumi Senyiur. Sebuah tempat yang lumayan menyenangkan untuk bermalam.



Besoknya, menjelang siang, kami pulang kembali ke Balikpapan. Ditengah perjalanan kami beristirahat dan makan siang di RM. Tahu Sumedang, warungnya cukup luas, dengan lahan parkir yang lumayan luas juga. Suasana yang masih asri dan sejuk, penuh dengan pepohonan, ditambah alunan musik gending sunda dan sajian makanan khas sunda yang uenaakk pisan, membuat siapapun akan merasa ingin kembali makan disana. Setelah makan siang dan sholat dzuhur, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Balikpapan, tempat baru kami menaruh harapan.





Baca selengkapnya......

Rabu, April 16

Pesta kecil untuk abah






















Dua hari yang lalu ada 'pesta kecil' dirumah gunung. Pesta kecil itu diadakan untuk menyambut hari ulang tahun abah.







-Seperti biasanya- kue ulang tahunnya ibu yang membuat, sejak siang ibu memang sangat sibuk mempersiapkan kue ultah untuk abah. Tadinya ibu ingin memberi kejutan untuk abah, tetapi karena kue ultahnya belum selesai saat abah pulang dari kantor, jadi batal deh rencana 'kejutan'nya itu.










Saat itu ibu membuat dan menghias 2 buah kue, satu untuk dimakan rame-rame di 'pesta kecil', satu lagi untuk dibawa abah ke kantor bersama kue-kue lainnya yang sudah ibu pesan dari mbak ika (temen ibu).












Malam harinya, setelah seluruh keluarga somantri berkumpul, abang memberi hadiah sebuah kartu ucapan yang dibuat oleh abang sendiri menggunakan crayon warna kesukaannya. Sementara tahun ini ibu tidak memberikan kado apapun. Sebetulnya seminggu sebelumnya ibu sudah membeli 2 buah buku yang akan ibu hadiahkan untuk abah, tetapi karena penasaran ingin tahu isi buku tersebut, akhirnya sebelum buku2 tersebut dibungkus kertas kado, ibu telah membacanya terlebih dahulu, akhirnya ibu tidak jadi memberi kado buku itu untuk abah, karena abah sudah keburu melihat kedua buku tersebut. Saat diceritain hal itu pada abah, abah cuman seyum-senyum aja, sambil bilang "gak papa...abah nggak minta dihadiahin apa-apa kok.." katanya sambil tersenyum.






" tapi.. nanti saat ibu ulang tahun ibu ingin dikasih hadiah ya.." pinta ibu agak malu. "ih..ibu..." sahut abah sambil tertawa.











Tidak ada perayaan meriah, nggak ada teman yang diundang, kue yang dihidangpun seadanya saja, tapi mudah-mudahan 'pesta kecil' yang ibu rancang bersama abang fathir membekas dihati seluruh anggota keluarga somantri, khususnya abah yang berulang tahun malam itu.












"selamat ulang tahun abah kami tersayang, semoga panjang umur, sehat terus, dan selalu dirahmati Alloh SWT..."

Baca selengkapnya......

Senin, April 7

Ke pantai Manggar

Pilihan rekreasi bagi abang dan adek di hari libur -seperti biasanya- adalah : berenang di pasir ridge? (kolam renang) atau berenang di pantai Manggar? dan seperti biasanya juga abang selalu menjawab : Ke Pantai Manggaaaaarrrr..!! sambil berteriak kegirangan disusul jeritan kecil adek yang memekakan telinga terpengaruh oleh suasana hati abang fathir.








Dan seperti hari sabtu/ minggu sore sebelumnya, keluarga somantri kembali berangkat menuju pantai Manggar. Jam menunjukan pukul 4.30 sore, langit masih terang ke-emasan, sinar mataharipun masih terasa sedikit panas dikulit. Beberapa perbekalan seperti handuk, baju ganti, shampo, dan plastik besar selalu memenuhi tas hitam favorit perjalanan.






Ibu duduk di jok depan, abang, adek, dan si mbak duduk di jok tengah. Mulut abang tak henti-hentinya berceloteh, apa saja yang abang lihat selalu ditanyakan atau dikomentari, sesekali adek ikut menimpali dengan kalimat yang tidak begitu jelas, kadang adek asyik bernyanyi kecil sendirian, tanpa menghiraukan suara abang yang memenuhi mobil.






Tiba di Pantai Manggar, waktu hampir menunjukan jam 5 sore, sinar matahari mulai menghangat. Ujung-ujung daun kelapa dan pepohonan lainnya yang tumbuh subur disepanjang pantai melambai-lambai tertiup angin. Mobil dan motor para pengunjung tersusun memenuhi tempat parkir, para penjual makanan berderet sepanjang area parkir yang tertata rapi, ada soto, ikan bakar, coto makasar, bakso, es kelapa, pecel, dan jajan anak, kadang ada juga yang menjual cendera mata berupa kaos atau gelang dan kalung batu. Beberapa pengunjung bergerombol dibawah naungan pohon, duduk bersila diatas tikar sewaan, beberapa diantaranya membawa bekal makanan dari rumah. Yang lainnya ada yang bermain bola, berjalan tanpa arah menyusuri pantai, berenang, atau naik perahu sewa.






Abang dan adek langsung berhamburan keluar dari mobil menuju pantai yang berombak tenang, hamparan pasir nan putih terasa hangat menutupi jari-jari kaki. Tidak lama kemudian abah, adek, abang langsung menceburkan diri kedalam air yang juga terasa hangat. Sementara ibu asyik dengan kameranya, kadang ibu hanya duduk menonton dipinggir pantai sambil memesan es kelapa tawar kesukaannya.






Setelah bosan berenang, abang dan adek biasanya bermain pasir, sambil mengumpulkan ‘kumang’ -binatang kecil yang bercapit dan memiliki cangkang- disepanjang bibir pantai. Awal abang selalu membawa semua kumang hasil perolehannya itu kerumah, tetapi nasib si kumang itu selalu berakhir tragis, mati didalam gelas plastik sambil mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Setelah itu, ibu melarang abang untuk membawa kumang ke rumah, jadi sebanyak apapun hasil tangkapannya, abang dan adek akan melepaskannya lagi dipantai, sambil berharap para kumang yang imut itu akan segera menjadi besar.






Menjelang maghrib, langit pun menjadi semakin gelap, para pengunjung mulai meninggalkan pantai, demikian juga dengan keluarga somantri, pulang dengan hati senang.

Baca selengkapnya......

Kamis, Maret 20

si bawel


Julukan ini cocok buat adek karan. Sudah beberapa bulan ini adek semakin pandai berbicara -walaupun kadang masih cadel-. Padahal umur adek belum 2 tahun. Apa aja yang adek dengar langsung diikuti. Bukan hanya satu atau dua kata saja, bahkan adek sudah bisa merangkai sebuah kalimat sederhana, seperti misalnya "ibu/abah/abang mana yah..?", atau "abang niii..mam duyu.." (abang sini mam dulu) saat ibu meminta adek memanggil abang untuk makan.



Tidak hanya itu, kadang adek menyanyikan beberapa syair lagu, biasanya saat adek duduk dalam mobil. "bintang kicil, angit ....biyu..., dst", "bulung kaka tuaa..., gap deyaaa....dst" adek memang suka menyanyi, beberapa lagu anak-anak adek sudah hafal, tidak seluruh bait sih, tapi kalau bernyanyi bareng, adek mampu meyanyikan dari awal sampe akhir lagu, kadang beberapa iklan di TV pun kadang adek ikuti. Akhir-akhir ini sebelum menjelang tidur, sesaat sebelum adek mimi sama ibu, adek akan langsung bilang "citain..citainn..."

(ceritain..ceritain) pintanya sambil melihat kearah ibu. Kata ini selalu adek dengar dari abang sebelum menjelang tidur. Memang salah satu kebiasaan ibu sebelum tidur adalah mendongeng untuk abang dan adek. Selama ini ibu berfikir hanya abang yang menikmati dongeng2nya ibu. Tetapi rupanya adekpun ikut menyimak juga. Wah bertambah deh orang yang meminta ibu untuk mendongeng nih..


Jadinya sekarang hampir setiap menjelang tidur ibu mendongeng 2 kategori cerita. Satu dongeng untuk adek, dan dongeng satunya lagi untuk abang. Untuk adek ibu akan mendongengkan cerita yang lebih singkat dan mudah difahami, seperti misalnya "si kodok yang pandai melompat", "si kodok yang suka bernyanyi", dsb. Sedangkan untuk abang, biasanya dongeng yang diceritakan lebih panjang dan penuh dengan intrik (seperti yang di request abang selama ini) seperti misalnya " si ulat yang baik dan si ulat yang jahat", atau " si ujang yang rajin dan si bedu yang pemalas", dsb.


Hingga suatu saat, ketika adek minta diceritakan sebuah dongeng, ibu balik nanya pada adek " memangnya adek mau diceritain apa..?" tanya ibu pada adek. "kodookkk..." sahut adek sambil tersenyum malu-malu. Ugh... adek... adek.. tambah pintar aja nih, bathin ibu gemas.

Baca selengkapnya......

Selasa, Maret 4

Si gigi ompong


Seminggu setelah bang fathir genap berusia 6 tahun, gigi bawah abang mulai goyang.




"bu gigi bawahku sakit, goyang-goyang terus.." cerita bang fathir sambil mengaduh ketika ibu menyuapinya makan. "walah, coba bang ibu periksa.." sahut ibu sambil meraba-raba gigi bawahnya abang. Rupanya gigi tengah bawah memang sudah bergoyang, mungkin saatnya abang fathir dicabut gigi sudah tiba. Ibu langsung berfikir keras, gimana caranya abang mau dicabut gigi tanpa harus dipaksa dan tanpa meninggalkan trauma ya?








Tiba-tiba saja ibu ada ide, saat ibu kecil dulu ada hal yang menarik ketika ibu harus dicabut gigi, saat itu mamah dan apa-nya ibu bilang "kalau gigi atas yang dicabut, nanti giginya harus dikubur, biar tumbuhnya lurus kebawah, tetapi kalau gigi bawah yang dicabut, maka si gigi yang copot itu harus dilempar ke atas atap, biar tumbuhnya lurus keatas". Jadi setiap gigi ibu mulai goyang yang difikirkan ibu adalah melemparnya atau mengubur si gigi itu. Walapun sakit dan selalu menangis setiap saat gigi ibu dicabut, tetapi ibu menjadi tidak sabaran untuk segera melakukan ritual setelah pencabutan.








Dari situlah akhirnya ibu menceritakan kembali apa yg sudah ibu alami waktu kecil. Saat diceritakan hal tersebut hanya satu kata yg terucap dari mulut kecilnya : "aneh...!!!" komentar bang fathir sambil tersenyum lebar. Tetapi dari senyumannya itu ibu tahu bang fathir tertarik untuk segera melemparkan giginya ke atas atap rumah.






***






Hari Sabtu siang, abang fathir sudah berpakaian rapi. Tidak biasanya abang fathir mandi dengan cepat. "ayo bu, katanya mau ke dokter gigi.." seru bang fathir, "iya.. sebentar.. ibu cari surat pengantarnya dulu.." jawab ibu sambil tersenyum.






Jam 3 sore, ibu sudah sampai diklinik gigi, dan langsung mendaftarkan bang fathir. Karena tidak ada pasien, jadi bang fathir langsung dipanggil ke ruangan dokter gigi.



Sesampainya diruangan, bang fathir terlihat sedikit ragu, bang fathir memang belum pernah masuk ke ruangan dokter gigi. Untung saja Pak dokter dan asistennya ramah sekali, sambil diajak cerita, tau-tau gigi bang fathir telah tercabut. "tuh ga sakit kan.." sahut pak dokter sambil mengusap-usap rambut abang. Bang fathir hanya tersenyum memperlihatkan bantalan kain kasa kecil digigi bawahnya.






Gigi kecil yang yang sudah copot itu terbungkus plastik kecil, tangan bang fathir menggenggamnya erat. Sambil menjilati lelehan es krim yang ibu belikan sebagai hadiah, bang fathir berkata "bu, aku hebat kan.. ? abang ga nangis kan...?". "iya.. abang hebat, itu tandanya abang sudah besar. Besok lagi kalau gigi abang goyang, kita cabut lagi di om dokter yang tadi, om nya pandai jadi nyabut giginya ga bikin sakit." jawab ibu sambil memperhatikan arah jalan pulang. Bang fathir yang duduk disambing ibu, terus berbicara gak henti-henti memperlihatkan satu giginya yang hilang.






Sesampainya dirumah, abang langsung berlari keluar mobil, "ayo bu, kita lempar giginya ke atas.." teriaknya, "tapi ibu yang melempar yah..." lanjutnya lagi. "iya, ibu yang lempar kali ini, tapi nanti abang yang melempar sendiri yah..." seru ibu sambil melempar gigi kecil abang ke atas genteng. Dan bang fathirpun tertawa senang.


(adek nebeng pamer gigi juga yah..)

Baca selengkapnya......

Syukuran abang dan rumah








Sabtu 23 februari kemarin, adalah hari tersibuk ibu selama tinggal dirumah gunung. Subuh-subuh ibu sudah berangkat kepasar, membeli segala keperluan untuk acara syukuran rumah sekaligus syukuran ulang tahun abang fathir.










Sebetulnya ulang tahun abang fathir jatuh pada hari senen, 25 februari, tetapi dikarenakan berbagai alasan akhirnya syukuran akan dilakukan pada hari minggunya. Rencananya ibu akan membuat beberapa hidangan kecil, dan juga kue ulang tahun yang telah abang fathir pesan beberapa hari sebelumnya. Untung saja Mbak Yuni temannya ibu mau membantu ibu membuat kue-kue tersebut. Untuk makanan utamanya ibu sudah memesan sop kaki kambing dan sate kambing diwarung langganan keluarga somantri.








Sepulang dari pasar, ibu langsung mempersiapkan berbagai bahan kue, beberapa diantaranya sudah ibu racik agar lebih memudahkan memasaknya pada keesokan harinya. Tidak lama kemudian mbak yuni, dan putrinya (alya) tiba, waktu itu ibu dan mbak yuni akan membuat kue lumpia.




Tidak terasa waktu terus berjalan, sekitar jam 10 malam, mbak yuni berpamitan pulang. Saat itu ibu dan mbak yuni baru membuat 3 macam kue saja. Sepulangnya mbak yuni, ibu kembali melanjutkan membuat kue ulang tahun pesanan abang. Kurang lebih jam 3 pagi, kue ulang tahun itu telah siap dengan semua hiasannya.




Jam 8 malam, beberapa tamu undangan sudah berdatangan, tidak banyak sih, soalnya yang diundangpun hanya beberapa keluarga yang sudah kenal saja. Anak-anak yang datangpun cuman alya, arsa dan anak-anaknya Mbak Nur saja. Tetapi walaupun begitu abang fathir dan adek tampak senang dengan acara ulang tahunnya tersebut, adek bahkan berkali-kali ikutan tiup lilin, alya temannya bang fathirpun kebagian tiup lilin juga. Biarpun dirayakan dengan sangat sederhana, tetapi dari sorot matanya ibu yakin semua anak yang hadir saat itu terlihat sangat bergembira, terutama bang fathir, yang berulang tahun malam itu.

(Ya Alloh jadikanlah abang fathir kami ini menjadi anak yang sholeh, anak yang berguna bagi agama nusa dan bangsa, tambah pintar, baik budi bahasanya, sopan santun perilakunya, lemah lembut tutur katanya.

Ya Alloh yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, jauhkanlah abang fathir dari segala mara bahaya, dari penyakit yang tidak tersembuhkan, sayangilah abang fathir seperti Engkau menyayangi orang-orang yang Engkau sayangi.

Ya Alloh kepadaMu lah kami memohon, tunjukilah kepada abang fathir jalan yang lurus, jalan yang Engkau ridhoi, mudahkanlah rezeki yang halal untuknya, tercapaikanlah cita-citanya.
Amin ya Alloh ya robbal alamin) (Doa ibu dan abah)

Baca selengkapnya......

Rumah Gunung

Sudah 2 minggu keluarga somantri menempati rumah gunungnya.

Ada satu hal yang membuat ibu terkesan dengan rumah ini yaitu suara kokok ayam-nya tetangga sekitar. Hampir setiap saat ibu selalu mendengar suara kokok ayam, apalagi saat subuh tiba, hal ini mengingatkan pada suasana desa tempat ibu dibesarkan. Selama tinggal di Duri ibu tidak pernah mendengar suara kokok ayam sedikitpun, karena ada peraturan bahwa tidak boleh memelihara unggas didalam komplek perumahan. Jadi hampir 6 tahun lamanya ibu tidak pernah mendengar suara kokok ayam dipagi hari, kecuali kalau sedang berlibur di rumah nenek kakek atau nini aki -nya abang dan adek.
Sekarang setelah 2 minggu lamanya ibu tinggal di rumah gunung, setiap saat ibu bisa mendengarkan suara kokok ayam tersebut, selain itu juga ibu bisa mencium lagi bau asap orang yang membakar sampah, atau asap kayu bakar dari tungku bakar tetangga sekitar, tentunya aroma yang tercium beda jauh dengan asap kebakaran hutan yang selama tinggal di Duri tidak pernah ibu lewatkan sedikitpun.


Bagi sebagian orang mungkin ibu terlihat sedikit berlebihan, bagi sebagian orang mungkin hal ini tidak begitu istimewa, bahkan terkesan biasa saja. Tapi dari hal kecil inilah ibu menjadi bersemangat untuk segera menikmati hari-hari kedepannya.

Baca selengkapnya......

Jumat, Februari 15

Pindah rumah (lagi)

Ini hal kedua kalinya yang akan dilakukan oleh keluarga somantri. Pertama kali pindah rumah yaitu saat pertama datang ke Balikpapan, saat itu keluarga somantri menempati rumah kontrakan yang abah sewa selama 1 tahun. Perlu 2 bulan bagi keluarga somantri untuk membenahi rumah semenjak kepindahan, bukan waktu sebentar untuk memberesi rumah juga bukan pekerjaan yang gampang untuk mengatur semua perabotan sesuai pada tempatnya.
Dan setelah hampir empat bulan keluarga somantri menempati rumah kontrakan, sekarang keluarga somantri harus mulai berkemas dan bersiap-siap direpotkan lagi oleh segala hal menyangkut kepindahan.
Ya, selama ini keluarga somantri terus mencari rumah yang cocok dan sesuai dengan budget. Setelah keluar masuk komplek perumahan, gang-gang perkampungan, sampai kepelosok desa, akhirnya keluarga somantri menetapkan pilihan hatinya pada sebuah rumah yang cukup luas diatas perbukitan, harganya yang terjangkau juga pemandangan alam yang menawan, sampai mengenyampingkan phobia ibu pada ketinggian, telah membuat keluarga somantri memantapkan pilihan pada rumah gunung tersebut, panggilan bagi rumah kami itu.
Rencananya Hari minggu tanggal 17 februari besok, seluruh keluarga somantri akan mulai menempati rumah barunya. Bukan pekerjaan yang mudah pindah rumah dan menempatinya, apalagi setelah selama ini keluarga somantri mulai merasa nyaman dengan lingkungan sekitar kontrakan, hanya saja hal ini sudah menjadi pilihan. Pilihan keluarga somantri untuk menempati rumah gunung, rumah tempat keluarga somantri bernaung. Go Somantries go..!!!!

Baca selengkapnya......

Apa banyak...

Suatu hari kakang (adeknya ibu yang paling kecil) bersenandung riang dibelakang rumah, saat itu kakang masih sangat kecil
kakang : "bintang kecil... dilangit yang biru, amat... eh apa (bapak-b.sunda) banyak ... menghias angkasa..."
Ibu : "kang kok.. apa banyak sih...?" (ibu terlihat agak bingung)
kakang : "kan pamali nyebut nama apa (bapak).." sahutnya enteng sambil terus melanjutkan nyanyiannya lagi.
ibu, ninin (mamah nya ibu) tertawa terbahak-bahak, setelah menyadari nama apa (bapak) yaitu "amat"

Baca selengkapnya......

Sabtu, Januari 26

Hari Kamis yang menyebalkan

Kamis pagi seperti biasanya ibu sudah sibuk didapur, mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat sarapan, rencananya hari itu ibu akan membuat mie goreng makanan kesukaan abang dan abah, setelah siap semua bahan ibu kemudian menyalakan kompor gas untuk mulai memasak, olala rupanya gasnya habis, tidak sedikitpun ada api yang keluar, dengan kecewa ibu mengurungkan niatnya membuat mie goreng. Ugh padahal dirumah lagi tidak ada roti, jadi sarapannya apa dong..? bathin ibu bingung.
Akhirnya pagi itu keluarga somantri sarapan hanya dengan segelas susu saja.


Jam 8 pagi, ibu, abang, dan adek terlihat sudah berpakaian rapi, pagi itu ibu memang berencana berobat ke medical clinic yang berada di pasir ridge, jauh sih, tapi mau gimana lagi, semenjak tanggal 1 Januari 2008, kartu berobat yang biasanya bisa dipakai untuk berobat ke berbagai rumah sakit yang bekerjasama dengan perusahaan tempat abahnya kerja tidak berlaku lagi, jadi terpaksa ibu harus berangkat ke pasir ridge lebih awal, menghindari macet sepanjang Jalan Sudirman.



Sampai di klinik jam menunjukan angka 9, waktu yang ditempuh lebih lama dari sebelumnya, karena ibu harus mampir dibeberapa toko untuk membeli beberapa bekal makanan dan minuman buat abang dan adek. Saat itu juga ibu langsung daftar ke resepsionis. Beberapa pasen (bapak-bapak) terlihat asyik ngobrol satu sama lain diruang tunggu. Satu persatu bapak-bapak itu mulai dipanggil oleh dokter yang akan memeriksanya. Abang dan adek tampak senang berada ditempat itu, mereka asyik berlari kesana kemari, sambil sesekali memperhatikan ikan-ikan kecil dalam aquarium diruangan tersebut.

Jam 10 ibu masih belum dipanggil, padahal ibu merasa sudah mulai bosan, tapi belum ada tanda-tanda ibu akan dipanggil, sementara orang yang berobat semakin bertambah, ugh...
Iseng-iseng ibu tanya pada pegawai resepsionis tentang hal itu, tapi si ibu resepsionis cuman menjawab, sabar, tunggu dipanggil aja, file nya sudah masuk koq. Fhh.. sudahlah... rupanya ibu harus belajar bersabar, seperti yang dikatakan si ibu itu.

Setengah jam berlalu, ruang tunggu semakin lengang oleh pengunjung, sesekali orang keluar masuk ruangan, tapi ibu masih belum dipanggil juga, "mas, saya koq belum dipanggil juga yah..? padahal sudah 1 jam lebih, mungkin file saya belum masuk ke meja dokter kali, ini pertama kali saya berobat" tanya ibu pada resepsionis satunya lagi. "maaf ya bu, dokter yang meriksa cuman satu, dan yang diutamakan pegawai dulu" jawabnya sambil tersenyum ramah.
Oh... nasib ! sampai kapan ibu dan anak-anak menunggu..??? Sementara pasen pegawai terus berdatangan. Sungguh tidak adil bathin ibu kesal, kepala ibu terasa berdenyut-denyut jadinya.
11.15 dokter yang bertugas akhirnya memanggil nama ibu, bergegas ibu, abang dan adek memasuki ruangan pemeriksaan.
Tidak beberapa lama, ibu keluar dengan membawa secarik kertas resep obat. Lagi-lagi ibu harus kembali menunggu antrian obat, untung saja hanya sebentar. Setelah mendapatkan obatnya, saat itu juga ibu, abang, dan adek masuk kedalam mobil yang akan membawa mereka kembali kerumah.
Sampai dirumah jam menunjukan hampir jam 1 siang, perut ibu sudah melilit lapar, abang dan adekpun tampak kelelahan setelah sekian jam berlari-larian didalam ruangan di medical. Tiba-tiba ibu teringat tidak ada makanan apapun dirumah, gara-gara isi tabung gas habis sejak tadi pagi. Karena kompor tidak bisa menyala akhirnya ibu mengeluarkan alat memasak yang selama ini jarang ibu pakai, dikarenakan cara pemakaiannya yang boros listrik. Dulu sewaktu ibu masih tinggal di duri camp, ibu tidak pernah peduli dengan daya listrik dari setiap barang dirumah, karena perusahaan sudah menanggung biaya listrik dari masing-masing rumah yang ada di camp. Begitupun dengan pemakaian air bersih, begitu melimpah ruah air yang tersedia disetiap rumah, bagaimana tidak begitu, perusahaan mempunyai water treatment plant dengan standar luar negeri sendiri, kontras dengan penduduk sekitar camp yang kesulitan mendapatkan air bersih, dikarenakan kondisi geografis, dan juga kurang adanya perhatian dari pemerintah akan prasarana air bersih disana. Makanya ibu dan mungkin semua penghuni camp duri tidak pernah dipusingkan dengan listrik dan air. Tapi semenjak ibu pindah ke balikpapan, ibu mulai memperhatikan daya listrik dari masing-masing barang listrik dirumah, ibu tidak ingin biaya listrik membengkak hebat, jadi sedikit-sedikit ibu mulai belajar berhemat khususnya dalam pemakaian listrik dan air. Saat membuka kran air, air yang keluar tidak sederas biasanya, hanya sebesar jari kelingking, lama-kelamaan air menetes sesekali dan selanjutnya tidak sedikitpun air yang keluar dari kran itu. "Ya Alloh..." gumam ibu, saat itu ibu bisa merasakan bagaimana orang yang kesusahan mendapatkan air bersih. Saatnya menggunakan tandon air!
Ada nasihat yang diberikan beberapa teman abah dan ibu saat ibu memutuskan akan tinggal di balikpapan, yaitu membeli tandon air, dan genset. Dan inilah saatnya ibu mempergunakan tandon air yang abah beli saat pertama kali sampai dibalikpapan.
Air tandon mengalir terasa lebih dingin dari air sebelumnya. Panci listrik berdaya besar yang sudah lama tersimpan dilemari akhirnya terpakai juga hari itu. Ibu mengisinya dengan sedikit air, 2 bungkus mie instan dan beberapa telur ayam berserak disampingnya. Tidak ada pilihan lagi, ibu akan memasak mie dan telur-telur itu dalam panci listrik tersebut, membayangkannya saja perut ibu semakin melilit-lilit. Beberapa saat setelah menyambungkan kabel listrik lampu tanda memasak tidak menyala seperti biasanya. Ibu mencabut dan mencucukan kabelnya berkali-kali tetapi tetap lampu itu masih mati. "aduhh rus.... o..ow... jangan... jangan.." gumam ibu sambil menyalakan lampu kontak disebelahnya. Dan lampu save energy diatas ibupun ikut-ikutan mati, bibir ibu terasa kelu, setetes air mengalir dari sudut mata ibu. Perut ibu semakin melilit pedih. Welcome to the real world bu..!!

Baca selengkapnya......