DaisypathAnniversary Years Ticker
Lilypie 6th to 18th PicLilypie 6th to 18th Ticker
Lilypie 3rd Birthday PicLilypie 3rd Birthday Ticker

Kamis, Maret 20

si bawel


Julukan ini cocok buat adek karan. Sudah beberapa bulan ini adek semakin pandai berbicara -walaupun kadang masih cadel-. Padahal umur adek belum 2 tahun. Apa aja yang adek dengar langsung diikuti. Bukan hanya satu atau dua kata saja, bahkan adek sudah bisa merangkai sebuah kalimat sederhana, seperti misalnya "ibu/abah/abang mana yah..?", atau "abang niii..mam duyu.." (abang sini mam dulu) saat ibu meminta adek memanggil abang untuk makan.



Tidak hanya itu, kadang adek menyanyikan beberapa syair lagu, biasanya saat adek duduk dalam mobil. "bintang kicil, angit ....biyu..., dst", "bulung kaka tuaa..., gap deyaaa....dst" adek memang suka menyanyi, beberapa lagu anak-anak adek sudah hafal, tidak seluruh bait sih, tapi kalau bernyanyi bareng, adek mampu meyanyikan dari awal sampe akhir lagu, kadang beberapa iklan di TV pun kadang adek ikuti. Akhir-akhir ini sebelum menjelang tidur, sesaat sebelum adek mimi sama ibu, adek akan langsung bilang "citain..citainn..."

(ceritain..ceritain) pintanya sambil melihat kearah ibu. Kata ini selalu adek dengar dari abang sebelum menjelang tidur. Memang salah satu kebiasaan ibu sebelum tidur adalah mendongeng untuk abang dan adek. Selama ini ibu berfikir hanya abang yang menikmati dongeng2nya ibu. Tetapi rupanya adekpun ikut menyimak juga. Wah bertambah deh orang yang meminta ibu untuk mendongeng nih..


Jadinya sekarang hampir setiap menjelang tidur ibu mendongeng 2 kategori cerita. Satu dongeng untuk adek, dan dongeng satunya lagi untuk abang. Untuk adek ibu akan mendongengkan cerita yang lebih singkat dan mudah difahami, seperti misalnya "si kodok yang pandai melompat", "si kodok yang suka bernyanyi", dsb. Sedangkan untuk abang, biasanya dongeng yang diceritakan lebih panjang dan penuh dengan intrik (seperti yang di request abang selama ini) seperti misalnya " si ulat yang baik dan si ulat yang jahat", atau " si ujang yang rajin dan si bedu yang pemalas", dsb.


Hingga suatu saat, ketika adek minta diceritakan sebuah dongeng, ibu balik nanya pada adek " memangnya adek mau diceritain apa..?" tanya ibu pada adek. "kodookkk..." sahut adek sambil tersenyum malu-malu. Ugh... adek... adek.. tambah pintar aja nih, bathin ibu gemas.

Baca selengkapnya......

Selasa, Maret 4

Si gigi ompong


Seminggu setelah bang fathir genap berusia 6 tahun, gigi bawah abang mulai goyang.




"bu gigi bawahku sakit, goyang-goyang terus.." cerita bang fathir sambil mengaduh ketika ibu menyuapinya makan. "walah, coba bang ibu periksa.." sahut ibu sambil meraba-raba gigi bawahnya abang. Rupanya gigi tengah bawah memang sudah bergoyang, mungkin saatnya abang fathir dicabut gigi sudah tiba. Ibu langsung berfikir keras, gimana caranya abang mau dicabut gigi tanpa harus dipaksa dan tanpa meninggalkan trauma ya?








Tiba-tiba saja ibu ada ide, saat ibu kecil dulu ada hal yang menarik ketika ibu harus dicabut gigi, saat itu mamah dan apa-nya ibu bilang "kalau gigi atas yang dicabut, nanti giginya harus dikubur, biar tumbuhnya lurus kebawah, tetapi kalau gigi bawah yang dicabut, maka si gigi yang copot itu harus dilempar ke atas atap, biar tumbuhnya lurus keatas". Jadi setiap gigi ibu mulai goyang yang difikirkan ibu adalah melemparnya atau mengubur si gigi itu. Walapun sakit dan selalu menangis setiap saat gigi ibu dicabut, tetapi ibu menjadi tidak sabaran untuk segera melakukan ritual setelah pencabutan.








Dari situlah akhirnya ibu menceritakan kembali apa yg sudah ibu alami waktu kecil. Saat diceritakan hal tersebut hanya satu kata yg terucap dari mulut kecilnya : "aneh...!!!" komentar bang fathir sambil tersenyum lebar. Tetapi dari senyumannya itu ibu tahu bang fathir tertarik untuk segera melemparkan giginya ke atas atap rumah.






***






Hari Sabtu siang, abang fathir sudah berpakaian rapi. Tidak biasanya abang fathir mandi dengan cepat. "ayo bu, katanya mau ke dokter gigi.." seru bang fathir, "iya.. sebentar.. ibu cari surat pengantarnya dulu.." jawab ibu sambil tersenyum.






Jam 3 sore, ibu sudah sampai diklinik gigi, dan langsung mendaftarkan bang fathir. Karena tidak ada pasien, jadi bang fathir langsung dipanggil ke ruangan dokter gigi.



Sesampainya diruangan, bang fathir terlihat sedikit ragu, bang fathir memang belum pernah masuk ke ruangan dokter gigi. Untung saja Pak dokter dan asistennya ramah sekali, sambil diajak cerita, tau-tau gigi bang fathir telah tercabut. "tuh ga sakit kan.." sahut pak dokter sambil mengusap-usap rambut abang. Bang fathir hanya tersenyum memperlihatkan bantalan kain kasa kecil digigi bawahnya.






Gigi kecil yang yang sudah copot itu terbungkus plastik kecil, tangan bang fathir menggenggamnya erat. Sambil menjilati lelehan es krim yang ibu belikan sebagai hadiah, bang fathir berkata "bu, aku hebat kan.. ? abang ga nangis kan...?". "iya.. abang hebat, itu tandanya abang sudah besar. Besok lagi kalau gigi abang goyang, kita cabut lagi di om dokter yang tadi, om nya pandai jadi nyabut giginya ga bikin sakit." jawab ibu sambil memperhatikan arah jalan pulang. Bang fathir yang duduk disambing ibu, terus berbicara gak henti-henti memperlihatkan satu giginya yang hilang.






Sesampainya dirumah, abang langsung berlari keluar mobil, "ayo bu, kita lempar giginya ke atas.." teriaknya, "tapi ibu yang melempar yah..." lanjutnya lagi. "iya, ibu yang lempar kali ini, tapi nanti abang yang melempar sendiri yah..." seru ibu sambil melempar gigi kecil abang ke atas genteng. Dan bang fathirpun tertawa senang.


(adek nebeng pamer gigi juga yah..)

Baca selengkapnya......

Syukuran abang dan rumah








Sabtu 23 februari kemarin, adalah hari tersibuk ibu selama tinggal dirumah gunung. Subuh-subuh ibu sudah berangkat kepasar, membeli segala keperluan untuk acara syukuran rumah sekaligus syukuran ulang tahun abang fathir.










Sebetulnya ulang tahun abang fathir jatuh pada hari senen, 25 februari, tetapi dikarenakan berbagai alasan akhirnya syukuran akan dilakukan pada hari minggunya. Rencananya ibu akan membuat beberapa hidangan kecil, dan juga kue ulang tahun yang telah abang fathir pesan beberapa hari sebelumnya. Untung saja Mbak Yuni temannya ibu mau membantu ibu membuat kue-kue tersebut. Untuk makanan utamanya ibu sudah memesan sop kaki kambing dan sate kambing diwarung langganan keluarga somantri.








Sepulang dari pasar, ibu langsung mempersiapkan berbagai bahan kue, beberapa diantaranya sudah ibu racik agar lebih memudahkan memasaknya pada keesokan harinya. Tidak lama kemudian mbak yuni, dan putrinya (alya) tiba, waktu itu ibu dan mbak yuni akan membuat kue lumpia.




Tidak terasa waktu terus berjalan, sekitar jam 10 malam, mbak yuni berpamitan pulang. Saat itu ibu dan mbak yuni baru membuat 3 macam kue saja. Sepulangnya mbak yuni, ibu kembali melanjutkan membuat kue ulang tahun pesanan abang. Kurang lebih jam 3 pagi, kue ulang tahun itu telah siap dengan semua hiasannya.




Jam 8 malam, beberapa tamu undangan sudah berdatangan, tidak banyak sih, soalnya yang diundangpun hanya beberapa keluarga yang sudah kenal saja. Anak-anak yang datangpun cuman alya, arsa dan anak-anaknya Mbak Nur saja. Tetapi walaupun begitu abang fathir dan adek tampak senang dengan acara ulang tahunnya tersebut, adek bahkan berkali-kali ikutan tiup lilin, alya temannya bang fathirpun kebagian tiup lilin juga. Biarpun dirayakan dengan sangat sederhana, tetapi dari sorot matanya ibu yakin semua anak yang hadir saat itu terlihat sangat bergembira, terutama bang fathir, yang berulang tahun malam itu.

(Ya Alloh jadikanlah abang fathir kami ini menjadi anak yang sholeh, anak yang berguna bagi agama nusa dan bangsa, tambah pintar, baik budi bahasanya, sopan santun perilakunya, lemah lembut tutur katanya.

Ya Alloh yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, jauhkanlah abang fathir dari segala mara bahaya, dari penyakit yang tidak tersembuhkan, sayangilah abang fathir seperti Engkau menyayangi orang-orang yang Engkau sayangi.

Ya Alloh kepadaMu lah kami memohon, tunjukilah kepada abang fathir jalan yang lurus, jalan yang Engkau ridhoi, mudahkanlah rezeki yang halal untuknya, tercapaikanlah cita-citanya.
Amin ya Alloh ya robbal alamin) (Doa ibu dan abah)

Baca selengkapnya......

Rumah Gunung

Sudah 2 minggu keluarga somantri menempati rumah gunungnya.

Ada satu hal yang membuat ibu terkesan dengan rumah ini yaitu suara kokok ayam-nya tetangga sekitar. Hampir setiap saat ibu selalu mendengar suara kokok ayam, apalagi saat subuh tiba, hal ini mengingatkan pada suasana desa tempat ibu dibesarkan. Selama tinggal di Duri ibu tidak pernah mendengar suara kokok ayam sedikitpun, karena ada peraturan bahwa tidak boleh memelihara unggas didalam komplek perumahan. Jadi hampir 6 tahun lamanya ibu tidak pernah mendengar suara kokok ayam dipagi hari, kecuali kalau sedang berlibur di rumah nenek kakek atau nini aki -nya abang dan adek.
Sekarang setelah 2 minggu lamanya ibu tinggal di rumah gunung, setiap saat ibu bisa mendengarkan suara kokok ayam tersebut, selain itu juga ibu bisa mencium lagi bau asap orang yang membakar sampah, atau asap kayu bakar dari tungku bakar tetangga sekitar, tentunya aroma yang tercium beda jauh dengan asap kebakaran hutan yang selama tinggal di Duri tidak pernah ibu lewatkan sedikitpun.


Bagi sebagian orang mungkin ibu terlihat sedikit berlebihan, bagi sebagian orang mungkin hal ini tidak begitu istimewa, bahkan terkesan biasa saja. Tapi dari hal kecil inilah ibu menjadi bersemangat untuk segera menikmati hari-hari kedepannya.

Baca selengkapnya......

Jumat, Februari 15

Pindah rumah (lagi)

Ini hal kedua kalinya yang akan dilakukan oleh keluarga somantri. Pertama kali pindah rumah yaitu saat pertama datang ke Balikpapan, saat itu keluarga somantri menempati rumah kontrakan yang abah sewa selama 1 tahun. Perlu 2 bulan bagi keluarga somantri untuk membenahi rumah semenjak kepindahan, bukan waktu sebentar untuk memberesi rumah juga bukan pekerjaan yang gampang untuk mengatur semua perabotan sesuai pada tempatnya.
Dan setelah hampir empat bulan keluarga somantri menempati rumah kontrakan, sekarang keluarga somantri harus mulai berkemas dan bersiap-siap direpotkan lagi oleh segala hal menyangkut kepindahan.
Ya, selama ini keluarga somantri terus mencari rumah yang cocok dan sesuai dengan budget. Setelah keluar masuk komplek perumahan, gang-gang perkampungan, sampai kepelosok desa, akhirnya keluarga somantri menetapkan pilihan hatinya pada sebuah rumah yang cukup luas diatas perbukitan, harganya yang terjangkau juga pemandangan alam yang menawan, sampai mengenyampingkan phobia ibu pada ketinggian, telah membuat keluarga somantri memantapkan pilihan pada rumah gunung tersebut, panggilan bagi rumah kami itu.
Rencananya Hari minggu tanggal 17 februari besok, seluruh keluarga somantri akan mulai menempati rumah barunya. Bukan pekerjaan yang mudah pindah rumah dan menempatinya, apalagi setelah selama ini keluarga somantri mulai merasa nyaman dengan lingkungan sekitar kontrakan, hanya saja hal ini sudah menjadi pilihan. Pilihan keluarga somantri untuk menempati rumah gunung, rumah tempat keluarga somantri bernaung. Go Somantries go..!!!!

Baca selengkapnya......

Apa banyak...

Suatu hari kakang (adeknya ibu yang paling kecil) bersenandung riang dibelakang rumah, saat itu kakang masih sangat kecil
kakang : "bintang kecil... dilangit yang biru, amat... eh apa (bapak-b.sunda) banyak ... menghias angkasa..."
Ibu : "kang kok.. apa banyak sih...?" (ibu terlihat agak bingung)
kakang : "kan pamali nyebut nama apa (bapak).." sahutnya enteng sambil terus melanjutkan nyanyiannya lagi.
ibu, ninin (mamah nya ibu) tertawa terbahak-bahak, setelah menyadari nama apa (bapak) yaitu "amat"

Baca selengkapnya......

Sabtu, Januari 26

Hari Kamis yang menyebalkan

Kamis pagi seperti biasanya ibu sudah sibuk didapur, mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat sarapan, rencananya hari itu ibu akan membuat mie goreng makanan kesukaan abang dan abah, setelah siap semua bahan ibu kemudian menyalakan kompor gas untuk mulai memasak, olala rupanya gasnya habis, tidak sedikitpun ada api yang keluar, dengan kecewa ibu mengurungkan niatnya membuat mie goreng. Ugh padahal dirumah lagi tidak ada roti, jadi sarapannya apa dong..? bathin ibu bingung.
Akhirnya pagi itu keluarga somantri sarapan hanya dengan segelas susu saja.


Jam 8 pagi, ibu, abang, dan adek terlihat sudah berpakaian rapi, pagi itu ibu memang berencana berobat ke medical clinic yang berada di pasir ridge, jauh sih, tapi mau gimana lagi, semenjak tanggal 1 Januari 2008, kartu berobat yang biasanya bisa dipakai untuk berobat ke berbagai rumah sakit yang bekerjasama dengan perusahaan tempat abahnya kerja tidak berlaku lagi, jadi terpaksa ibu harus berangkat ke pasir ridge lebih awal, menghindari macet sepanjang Jalan Sudirman.



Sampai di klinik jam menunjukan angka 9, waktu yang ditempuh lebih lama dari sebelumnya, karena ibu harus mampir dibeberapa toko untuk membeli beberapa bekal makanan dan minuman buat abang dan adek. Saat itu juga ibu langsung daftar ke resepsionis. Beberapa pasen (bapak-bapak) terlihat asyik ngobrol satu sama lain diruang tunggu. Satu persatu bapak-bapak itu mulai dipanggil oleh dokter yang akan memeriksanya. Abang dan adek tampak senang berada ditempat itu, mereka asyik berlari kesana kemari, sambil sesekali memperhatikan ikan-ikan kecil dalam aquarium diruangan tersebut.

Jam 10 ibu masih belum dipanggil, padahal ibu merasa sudah mulai bosan, tapi belum ada tanda-tanda ibu akan dipanggil, sementara orang yang berobat semakin bertambah, ugh...
Iseng-iseng ibu tanya pada pegawai resepsionis tentang hal itu, tapi si ibu resepsionis cuman menjawab, sabar, tunggu dipanggil aja, file nya sudah masuk koq. Fhh.. sudahlah... rupanya ibu harus belajar bersabar, seperti yang dikatakan si ibu itu.

Setengah jam berlalu, ruang tunggu semakin lengang oleh pengunjung, sesekali orang keluar masuk ruangan, tapi ibu masih belum dipanggil juga, "mas, saya koq belum dipanggil juga yah..? padahal sudah 1 jam lebih, mungkin file saya belum masuk ke meja dokter kali, ini pertama kali saya berobat" tanya ibu pada resepsionis satunya lagi. "maaf ya bu, dokter yang meriksa cuman satu, dan yang diutamakan pegawai dulu" jawabnya sambil tersenyum ramah.
Oh... nasib ! sampai kapan ibu dan anak-anak menunggu..??? Sementara pasen pegawai terus berdatangan. Sungguh tidak adil bathin ibu kesal, kepala ibu terasa berdenyut-denyut jadinya.
11.15 dokter yang bertugas akhirnya memanggil nama ibu, bergegas ibu, abang dan adek memasuki ruangan pemeriksaan.
Tidak beberapa lama, ibu keluar dengan membawa secarik kertas resep obat. Lagi-lagi ibu harus kembali menunggu antrian obat, untung saja hanya sebentar. Setelah mendapatkan obatnya, saat itu juga ibu, abang, dan adek masuk kedalam mobil yang akan membawa mereka kembali kerumah.
Sampai dirumah jam menunjukan hampir jam 1 siang, perut ibu sudah melilit lapar, abang dan adekpun tampak kelelahan setelah sekian jam berlari-larian didalam ruangan di medical. Tiba-tiba ibu teringat tidak ada makanan apapun dirumah, gara-gara isi tabung gas habis sejak tadi pagi. Karena kompor tidak bisa menyala akhirnya ibu mengeluarkan alat memasak yang selama ini jarang ibu pakai, dikarenakan cara pemakaiannya yang boros listrik. Dulu sewaktu ibu masih tinggal di duri camp, ibu tidak pernah peduli dengan daya listrik dari setiap barang dirumah, karena perusahaan sudah menanggung biaya listrik dari masing-masing rumah yang ada di camp. Begitupun dengan pemakaian air bersih, begitu melimpah ruah air yang tersedia disetiap rumah, bagaimana tidak begitu, perusahaan mempunyai water treatment plant dengan standar luar negeri sendiri, kontras dengan penduduk sekitar camp yang kesulitan mendapatkan air bersih, dikarenakan kondisi geografis, dan juga kurang adanya perhatian dari pemerintah akan prasarana air bersih disana. Makanya ibu dan mungkin semua penghuni camp duri tidak pernah dipusingkan dengan listrik dan air. Tapi semenjak ibu pindah ke balikpapan, ibu mulai memperhatikan daya listrik dari masing-masing barang listrik dirumah, ibu tidak ingin biaya listrik membengkak hebat, jadi sedikit-sedikit ibu mulai belajar berhemat khususnya dalam pemakaian listrik dan air. Saat membuka kran air, air yang keluar tidak sederas biasanya, hanya sebesar jari kelingking, lama-kelamaan air menetes sesekali dan selanjutnya tidak sedikitpun air yang keluar dari kran itu. "Ya Alloh..." gumam ibu, saat itu ibu bisa merasakan bagaimana orang yang kesusahan mendapatkan air bersih. Saatnya menggunakan tandon air!
Ada nasihat yang diberikan beberapa teman abah dan ibu saat ibu memutuskan akan tinggal di balikpapan, yaitu membeli tandon air, dan genset. Dan inilah saatnya ibu mempergunakan tandon air yang abah beli saat pertama kali sampai dibalikpapan.
Air tandon mengalir terasa lebih dingin dari air sebelumnya. Panci listrik berdaya besar yang sudah lama tersimpan dilemari akhirnya terpakai juga hari itu. Ibu mengisinya dengan sedikit air, 2 bungkus mie instan dan beberapa telur ayam berserak disampingnya. Tidak ada pilihan lagi, ibu akan memasak mie dan telur-telur itu dalam panci listrik tersebut, membayangkannya saja perut ibu semakin melilit-lilit. Beberapa saat setelah menyambungkan kabel listrik lampu tanda memasak tidak menyala seperti biasanya. Ibu mencabut dan mencucukan kabelnya berkali-kali tetapi tetap lampu itu masih mati. "aduhh rus.... o..ow... jangan... jangan.." gumam ibu sambil menyalakan lampu kontak disebelahnya. Dan lampu save energy diatas ibupun ikut-ikutan mati, bibir ibu terasa kelu, setetes air mengalir dari sudut mata ibu. Perut ibu semakin melilit pedih. Welcome to the real world bu..!!

Baca selengkapnya......

Selasa, Januari 8

sisi lain (dilihat dari sudut pandang ibu)

Ada satu hal yang kurang sreg ibu rasakan saat berbelanja di balikpapan.

Pertamakali ibu berbelanja dipasar klandasan, ibu ingin membeli hati ampela untuk nasi tim buat adek, si ibu penjual menawarkan Rp. 5.000,- untuk 3 buah hati ampela, setelah sepakat ibu langsung membeli 3 buah saja, saat itu ibu memberi uang Rp. 10.000,-, dan si ibu penjual memberi kembalian berupa lembaran uang ribuan. ketika ibu periksa uang kembaliannya itu yang ada cuman ada Rp.4000,- dalam tangan, tapi berhubung ibu sudah jauh meninggalkan penjual itu akhirnya ibu ikhlaskan saja, ibu berfikir mungkin si penjual salah menghitung uang kembaliannya.

Kali berikutnya ibu berbelanja lagi dipasar yang berbeda, saat itu ibu membeli tahu 5 buah dengan harga Rp.5000,-, ibu memberi uang pada sipenjual dengan pecahan Rp. 20.000,-, seperti sebelumnya ibu diberi kembalian uang ribuan lecek yang bergulung-gulung, saat itu ibu tiba2 saja ingin menghitungnya kembali, dan setelah dihitung ulang (dihadapan si penjual) rupanya uang hanya ada Rp. 13.000,-, tentu saja ibu menagih sisa uang kembalian yg masih kurang, si ibu penjual tahu hanya bilang "maaf, gini kalau sudah tua, lali aku..." katanya sambil tersenyum malu, ibu pun ikut tersenyum jadinya.



Berikutnya lagi, ibu membeli kain disebuah toko bahan dipasar bpp, pada awalnya si abang penjual menghargai Rp. 20.000,-/meternya, lalu ibu tawar menjadi Rp. 15.000,- , si abang bilang "18ribu ajah deh mbak" katanya. "nggak ah 15ribu aja yah" bujuk ibu, "ya sudahlah, ambil berapa meter" kata si abang sambil membentangkan kain pilihan ibu. Saat si abang penjual kain bilang "ya sudahlah.." ibu fikir sudah ada kesepakatan harga antara ibu dan penjual di harga Rp. 15.000,-/m, saat ibu memberi uang Rp. 50.000,- untuk 2 meter kain, si abang penjual memberi kembalian sebanyakRp. 14.000,-, Terang saja ibu bingung "lho koq kembaliannya segini, harusnya kan 20ribu", protes ibu, "tadi kan saya bilang satu meternya 18ribu rupiah" sahutnya membela. oh........., ibu hanya melongo dan langsung pergi.

Dan kemarin siang, saat ibu belanja lagi kepasar, abang merajuk ingin dibelikan permen disebuah toko didepan ibu, abang, adek berdiri. Saat ibu tanya harga satuannya, si ibu penjual menjawab "seribu tiga" pada permen berbentuk telapak kaki yang ibu pegang, lalu ibu bertanya harga permen loli disebelahnya yang berbeda bentuk dan kemasannya, lagi-lagi si ibu penjual menjawab "seribu tiga". Lalu ibu membawa 2 buah permen kaki dan 1 permen loli, saat itu ibu fikir harga semuanya cuma Rp.1000,- saja, untuk meyakinkannya ibu tanya kembali pada si ibu penjual "kalau dicampur gimana bu, 2 permen kaki, dan satu permen loli bulat, harganya sama..?" tanya ibu, "iya boleh, harganya sama saja". Lalu ibupun mengambil 3 permen bertangkai tersebut. Saat itu si ibu penjual disibukan dengan pembeli yang lain, akhirnya ibu menunggu beberapa saat untuk membayar ketiga permen itu. Setelah pembeli yang lain pergi ibu langsung memberi selembar uang ribuan pada si ibu penjual, sambil bilang "permennya 3 ya bu". "Wah kurang dong bu, harusnya 2 ribu bayarnya, permen yang bulat itu harganya seribu/satunya, yang kaki harganya seribu tiga.." seru si ibu penjual. "lho katanya tadi sama harganya" sahut ibu kebingungan. "nggak, permen bulat itu harganya seribuan, jadi sampean bawa satu permen kaki lagi biar genap 2 ribu" sahut sipenjual menegaskan. Oh.... , lagi-lagi ibu melongo heran.

Ada kejadian lain lagi yang bikin greget hati ibu.
Saat itu ibu dan abah sedang keluar rumah, dirumah hanya ada nenek, kakek, abang dan adek.
Ketika sedang dalam perjalanan, tiba2 ponsel ibu berdering, tertulis nama kakek dalam display ponsel tersebut. "Hallo pak ada apa..?" tanya ibu, "teteh pesen lontong sayur yah..?" tanya kakek dari ujung tlp, "lontong..??? nggak tuh pak, kenapa gitu..?" tanya ibu kebingungan. "didepan rumah ada penjual lontong, dia mau nganterin lontong pesanan teteh, banyak banget lontongnya, untuk apa teh..?" kata kakek lagi "ah...saya ga pesen lontong kok pak, ga usah diterima, saya ndak pesen apa2 hari ini" sahut ibu lagi menerangkan. Untung saja kakek menelepon ibu terlebih dahulu, kalau tidak, abah harus mengeluarkan beribu-ribu rupiah untuk mengganti pesanan yang tidak pernah ibu pesan.
Beberapa hari berikutnya, ketika ibu sampai di rumah setelah berpergian. Tiba-tiba kakek bicara "teh, tadi ada tukang servis, dia bawa mesin cuci rusak yang dibelakang rumah itu, katanya disuruh aa". Tentu saja ibu agak kaget dibuatnya, seingat ibu, abah tidak pernah bicara tentang servis mesin cuci sebelumnya. Untuk meyakinkan Ibu langsung menghubungi abah, dan yang lebih mengagetkan ibu adalah bahwa abah tidak pernah menyuruh siapapun untuk memperbaikin mesin cuci rusak dirumah.
Tidak beberapa lama kemudian orang berbeda tetapi masih menggunakan seragam yang sama datang lagi, kali ini ibu yang membukakan pintunya. Orang itu bilang, "bu saya dari toko .... servis, mau bawa kulkasnya yang rusak" katanya menerangkan kedatangannya. "maaf pak, kulkas dirumah tidak rusak, bapak salah alamat" sahut ibu. "tapi saya dapat laporan bahwa kulkas dirumah ini rusak" kata tukang servis itu lagi. "kulkasku tidak rusak pak, yang ada mesin cuci kami yang rusak tapi itupun sudah dibawa sama teman bapak" sahut ibu agak ketus, "oya ngomong2, darimana bapak tahu mesin cuci kami rusak..?" lanjut ibu lagi sambil melihat tajam kearah si tukang servis didepannya. "emm... tadi kami mendapat laporan dari... aduh siapa yah namanya..?" sahut tukang servis didepan ibu gagap. Belum lagi ibu bicara, ponsel ibu berdering, rupanya abah yang menelepon "bu, barusan toko.... servis, menelepon katanya mesin cuci kita mau dibetulin atau nggak..?" tanya abah, wah ibu jadi bertambah bingung, tetapi akhirnya ibu ngambil keputusan untuk tidak diperbaiki, karena berbagai alasan. Setelah itu akhirnya tukang servis dan mobilnya pergi. Saat itu ibu tidak bisa berfikir banyak, yang ada ibu sudah mengikhlaskan kalau seandainya mesin cuci rusak itu tidak kembali. Sore harinya, mobil servis barang2 elektronik itu datang lagi sambil membawa mesin cuci rusak. Si tukang servisnya bilang "maaf ya pak, kami salah alamat". (terakhir ibu tahu bahwa tukang servis tau nomor ponsel abah dari kakek).
***
Bukan uang seribu, dua ribu yang ibu permasalahkan, tetapi kejujuran, keterusterangan yang ibu jungjung tinggi. dan sekarang ibu jadi lebih berhati-hati kalau belanja atau apapun itu, dan satu yang pasti ibu tidak akan pernah mendatang lagi penjual yang sama yang -menurut ibu- telah melakukan ketidak jujuran atau ketidak terusterangan.

Baca selengkapnya......

Senin, Januari 7

Sebuah keinginan

Ibu teringat keinginan ibu waktu dulu, saat itu ibu masih sangat kecil, saking kecilnya sampai tangan ibu-pun belum bisa menjangkau rak lemari yang berada dikamar apa dan mamah. Menurut ibu saat itu, banyak benda2 menarik didalam rak lemari tersebut, mulai dari peniti, benang, majalah bergambar pesawat, dan banyak hal lainnya yang selalu membuat ibu ingin selalu memanjat lemari itu. Ada satu keinginan ibu saat itu ; ibu ingin tangan ibu cepat tumbuh panjang hingga ibu bisa menjangkau kedalam lemari tersebut tanpa harus repot menggeser bangku2 berat didekatnya sebagai pijakan ibu memanjat.
Dengan seiring waktu, tanpa ibu sadari, untuk mengambil benda2 menarik dalam rak lemari itu ibu hanya cukup menjulurkan tangan ibu saja. Dan saat ibu menyadarinya ibu sangat senang sekali, dan saat itulah ibu mulai memikirkan hal lainnya.
***



Ketika ibu senang dengan barang2 nya mamah, hampir setiap hari ibu selalu menggunakan barang2 kepunyaan mamah, ntah itu bajunya mamah, sepatu hak tingginya, lipstik, bahkan -maaf- bh mamahpun ibu pakai. Dengan bergaya seperti mamah, ibu merasa sudah menjadi orang besar. Saat itu ibu berfikir "gimana rasanya punya dada besar seperti mamah ya? pasti menyenangkan".
***
Memasuki tahun kedua di sekolah menengah pertama, dada ibu mulai terasa sakit, apalagi saat tersentuh, bahkan sepelan apapun, saat itu mamah membelikan ibu miniset kecil berwarna peach beberapa buah, mamah bilang "dadamu sudah tumbuh teh", dan saat itulah ibu baru merasakan arti mempunyai dada bagi seorang perempuan.

Ketika itu ibu kembali berfikir hal lainnya, hal yang betul2 ibu tidak tahu jawabannya. Dan ibu bersemangat untuk mengingat-ingat hal itu, agar dimana suatu saat ibu mengalaminya ibu bisa menjawab semua teka-teki itu. Saat itu berfikir "gimana rasanya menjadi seorang pengantin, dan gimana rasanya mempunyai perut yang sangat besar (hamil)".
***

8 tahun kemudian, ketika ibu duduk dipelaminan, tunduk dalam kebahagaiaan dan rasa haru yang mendalam, ibu kembali teringat akan keinginan ibu dulu. Saat itu ibu tersenyum karena tinggal 1 lagi pertanyaan yang ibu belum tahu jawabannya.
***
Masuk umur trimester ke-3 kehamilan, perut ibu terlihat sudah semakin besar, dan janin kecil didalamnya semakin lincah bergerak, saat itu hanya satu keinginan ibu, ibu ingin segera melihat dan menimang mahluk kecil yang ada dalam perut ibu tersebut. Dan ibu menjadi sangat tidak sabar karenanya.
***
Mahluk kecil itu sekarang telah tumbuh menjadi anak yang sempurna, dan mempunyai nama, hanya satu keinginan ibu sekarang, ingin melihat dan mendampinginya menjadi manusia dewasa yang berbahagia dan berguna. ***

Baca selengkapnya......

Selasa, Januari 1

Selamat Tahun Baru 2008

Detik-detik menjelang pergantian tahun ibu lalui dengan biasa saja, diluar rumah terdengar bunyi kembang api menggelegar diudara berkali-kali, letupannya yang berwarna-warni membayang dijendela sebelah kiri sofa tempat ibu duduk, sesekali ibu memperhatikan cahaya kembang api dari balik jendela. Sayang keindahan kembang api itu hanya ibu saja yang menikmatinya, abah, adek, abang, nenek dan kakek telah terlelap tidur sejak tadi sore.

Sejak jam 8 malam, keluarga somantri memang sudah keluar rumah, pergi kelapangan merdeka pertamina balikpapan untuk menikmati suasana malam menjelang tahun baru. Dan baru pulang sekitar jam 10 malam, setelah semua orang merasa ngantuk, terkecuali ibu.

Tadi siang ibu memang tidur lama sekali, akhirnya malam ini ibu tidak bisa tidur, untuk menghilangkan rasa bosan sendirian, ibu surfing di internet, sambil sesekali ngotak-ngatik blog yang ibu buat. Sesuatu hal yang membuat kepala ibu puyeng, soalnya ibu tidak begitu tahu tentang hal yang berkaitan dengan blog atau situs. Bisa ditebak setelah sekian jam berkutat dengan blog, hasil akhirnya masih seperti itu juga. Untung saja warna-warni kembang api dilangit cukup menghibur hati ibu yang sedang kebingungan dan sedikit putus asa itu.
Tidak terasa waktu terus berlalu, dan pesta kembang api itupun telah usai. Suasana kembali hening dan gelap, ibu menutup notebook-nya, dan berusaha untuk memejamkan matanya, agar bisa kembali beraktifitas di hari baru, ditahun yang baru.
Selamat Tahun Baru 2008...!!!

Baca selengkapnya......