DaisypathAnniversary Years Ticker
Lilypie 6th to 18th PicLilypie 6th to 18th Ticker
Lilypie 3rd Birthday PicLilypie 3rd Birthday Ticker

Jumat, Februari 15

Pindah rumah (lagi)

Ini hal kedua kalinya yang akan dilakukan oleh keluarga somantri. Pertama kali pindah rumah yaitu saat pertama datang ke Balikpapan, saat itu keluarga somantri menempati rumah kontrakan yang abah sewa selama 1 tahun. Perlu 2 bulan bagi keluarga somantri untuk membenahi rumah semenjak kepindahan, bukan waktu sebentar untuk memberesi rumah juga bukan pekerjaan yang gampang untuk mengatur semua perabotan sesuai pada tempatnya.
Dan setelah hampir empat bulan keluarga somantri menempati rumah kontrakan, sekarang keluarga somantri harus mulai berkemas dan bersiap-siap direpotkan lagi oleh segala hal menyangkut kepindahan.
Ya, selama ini keluarga somantri terus mencari rumah yang cocok dan sesuai dengan budget. Setelah keluar masuk komplek perumahan, gang-gang perkampungan, sampai kepelosok desa, akhirnya keluarga somantri menetapkan pilihan hatinya pada sebuah rumah yang cukup luas diatas perbukitan, harganya yang terjangkau juga pemandangan alam yang menawan, sampai mengenyampingkan phobia ibu pada ketinggian, telah membuat keluarga somantri memantapkan pilihan pada rumah gunung tersebut, panggilan bagi rumah kami itu.
Rencananya Hari minggu tanggal 17 februari besok, seluruh keluarga somantri akan mulai menempati rumah barunya. Bukan pekerjaan yang mudah pindah rumah dan menempatinya, apalagi setelah selama ini keluarga somantri mulai merasa nyaman dengan lingkungan sekitar kontrakan, hanya saja hal ini sudah menjadi pilihan. Pilihan keluarga somantri untuk menempati rumah gunung, rumah tempat keluarga somantri bernaung. Go Somantries go..!!!!

Baca selengkapnya......

Apa banyak...

Suatu hari kakang (adeknya ibu yang paling kecil) bersenandung riang dibelakang rumah, saat itu kakang masih sangat kecil
kakang : "bintang kecil... dilangit yang biru, amat... eh apa (bapak-b.sunda) banyak ... menghias angkasa..."
Ibu : "kang kok.. apa banyak sih...?" (ibu terlihat agak bingung)
kakang : "kan pamali nyebut nama apa (bapak).." sahutnya enteng sambil terus melanjutkan nyanyiannya lagi.
ibu, ninin (mamah nya ibu) tertawa terbahak-bahak, setelah menyadari nama apa (bapak) yaitu "amat"

Baca selengkapnya......

Sabtu, Januari 26

Hari Kamis yang menyebalkan

Kamis pagi seperti biasanya ibu sudah sibuk didapur, mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat sarapan, rencananya hari itu ibu akan membuat mie goreng makanan kesukaan abang dan abah, setelah siap semua bahan ibu kemudian menyalakan kompor gas untuk mulai memasak, olala rupanya gasnya habis, tidak sedikitpun ada api yang keluar, dengan kecewa ibu mengurungkan niatnya membuat mie goreng. Ugh padahal dirumah lagi tidak ada roti, jadi sarapannya apa dong..? bathin ibu bingung.
Akhirnya pagi itu keluarga somantri sarapan hanya dengan segelas susu saja.


Jam 8 pagi, ibu, abang, dan adek terlihat sudah berpakaian rapi, pagi itu ibu memang berencana berobat ke medical clinic yang berada di pasir ridge, jauh sih, tapi mau gimana lagi, semenjak tanggal 1 Januari 2008, kartu berobat yang biasanya bisa dipakai untuk berobat ke berbagai rumah sakit yang bekerjasama dengan perusahaan tempat abahnya kerja tidak berlaku lagi, jadi terpaksa ibu harus berangkat ke pasir ridge lebih awal, menghindari macet sepanjang Jalan Sudirman.



Sampai di klinik jam menunjukan angka 9, waktu yang ditempuh lebih lama dari sebelumnya, karena ibu harus mampir dibeberapa toko untuk membeli beberapa bekal makanan dan minuman buat abang dan adek. Saat itu juga ibu langsung daftar ke resepsionis. Beberapa pasen (bapak-bapak) terlihat asyik ngobrol satu sama lain diruang tunggu. Satu persatu bapak-bapak itu mulai dipanggil oleh dokter yang akan memeriksanya. Abang dan adek tampak senang berada ditempat itu, mereka asyik berlari kesana kemari, sambil sesekali memperhatikan ikan-ikan kecil dalam aquarium diruangan tersebut.

Jam 10 ibu masih belum dipanggil, padahal ibu merasa sudah mulai bosan, tapi belum ada tanda-tanda ibu akan dipanggil, sementara orang yang berobat semakin bertambah, ugh...
Iseng-iseng ibu tanya pada pegawai resepsionis tentang hal itu, tapi si ibu resepsionis cuman menjawab, sabar, tunggu dipanggil aja, file nya sudah masuk koq. Fhh.. sudahlah... rupanya ibu harus belajar bersabar, seperti yang dikatakan si ibu itu.

Setengah jam berlalu, ruang tunggu semakin lengang oleh pengunjung, sesekali orang keluar masuk ruangan, tapi ibu masih belum dipanggil juga, "mas, saya koq belum dipanggil juga yah..? padahal sudah 1 jam lebih, mungkin file saya belum masuk ke meja dokter kali, ini pertama kali saya berobat" tanya ibu pada resepsionis satunya lagi. "maaf ya bu, dokter yang meriksa cuman satu, dan yang diutamakan pegawai dulu" jawabnya sambil tersenyum ramah.
Oh... nasib ! sampai kapan ibu dan anak-anak menunggu..??? Sementara pasen pegawai terus berdatangan. Sungguh tidak adil bathin ibu kesal, kepala ibu terasa berdenyut-denyut jadinya.
11.15 dokter yang bertugas akhirnya memanggil nama ibu, bergegas ibu, abang dan adek memasuki ruangan pemeriksaan.
Tidak beberapa lama, ibu keluar dengan membawa secarik kertas resep obat. Lagi-lagi ibu harus kembali menunggu antrian obat, untung saja hanya sebentar. Setelah mendapatkan obatnya, saat itu juga ibu, abang, dan adek masuk kedalam mobil yang akan membawa mereka kembali kerumah.
Sampai dirumah jam menunjukan hampir jam 1 siang, perut ibu sudah melilit lapar, abang dan adekpun tampak kelelahan setelah sekian jam berlari-larian didalam ruangan di medical. Tiba-tiba ibu teringat tidak ada makanan apapun dirumah, gara-gara isi tabung gas habis sejak tadi pagi. Karena kompor tidak bisa menyala akhirnya ibu mengeluarkan alat memasak yang selama ini jarang ibu pakai, dikarenakan cara pemakaiannya yang boros listrik. Dulu sewaktu ibu masih tinggal di duri camp, ibu tidak pernah peduli dengan daya listrik dari setiap barang dirumah, karena perusahaan sudah menanggung biaya listrik dari masing-masing rumah yang ada di camp. Begitupun dengan pemakaian air bersih, begitu melimpah ruah air yang tersedia disetiap rumah, bagaimana tidak begitu, perusahaan mempunyai water treatment plant dengan standar luar negeri sendiri, kontras dengan penduduk sekitar camp yang kesulitan mendapatkan air bersih, dikarenakan kondisi geografis, dan juga kurang adanya perhatian dari pemerintah akan prasarana air bersih disana. Makanya ibu dan mungkin semua penghuni camp duri tidak pernah dipusingkan dengan listrik dan air. Tapi semenjak ibu pindah ke balikpapan, ibu mulai memperhatikan daya listrik dari masing-masing barang listrik dirumah, ibu tidak ingin biaya listrik membengkak hebat, jadi sedikit-sedikit ibu mulai belajar berhemat khususnya dalam pemakaian listrik dan air. Saat membuka kran air, air yang keluar tidak sederas biasanya, hanya sebesar jari kelingking, lama-kelamaan air menetes sesekali dan selanjutnya tidak sedikitpun air yang keluar dari kran itu. "Ya Alloh..." gumam ibu, saat itu ibu bisa merasakan bagaimana orang yang kesusahan mendapatkan air bersih. Saatnya menggunakan tandon air!
Ada nasihat yang diberikan beberapa teman abah dan ibu saat ibu memutuskan akan tinggal di balikpapan, yaitu membeli tandon air, dan genset. Dan inilah saatnya ibu mempergunakan tandon air yang abah beli saat pertama kali sampai dibalikpapan.
Air tandon mengalir terasa lebih dingin dari air sebelumnya. Panci listrik berdaya besar yang sudah lama tersimpan dilemari akhirnya terpakai juga hari itu. Ibu mengisinya dengan sedikit air, 2 bungkus mie instan dan beberapa telur ayam berserak disampingnya. Tidak ada pilihan lagi, ibu akan memasak mie dan telur-telur itu dalam panci listrik tersebut, membayangkannya saja perut ibu semakin melilit-lilit. Beberapa saat setelah menyambungkan kabel listrik lampu tanda memasak tidak menyala seperti biasanya. Ibu mencabut dan mencucukan kabelnya berkali-kali tetapi tetap lampu itu masih mati. "aduhh rus.... o..ow... jangan... jangan.." gumam ibu sambil menyalakan lampu kontak disebelahnya. Dan lampu save energy diatas ibupun ikut-ikutan mati, bibir ibu terasa kelu, setetes air mengalir dari sudut mata ibu. Perut ibu semakin melilit pedih. Welcome to the real world bu..!!

Baca selengkapnya......

Selasa, Januari 8

sisi lain (dilihat dari sudut pandang ibu)

Ada satu hal yang kurang sreg ibu rasakan saat berbelanja di balikpapan.

Pertamakali ibu berbelanja dipasar klandasan, ibu ingin membeli hati ampela untuk nasi tim buat adek, si ibu penjual menawarkan Rp. 5.000,- untuk 3 buah hati ampela, setelah sepakat ibu langsung membeli 3 buah saja, saat itu ibu memberi uang Rp. 10.000,-, dan si ibu penjual memberi kembalian berupa lembaran uang ribuan. ketika ibu periksa uang kembaliannya itu yang ada cuman ada Rp.4000,- dalam tangan, tapi berhubung ibu sudah jauh meninggalkan penjual itu akhirnya ibu ikhlaskan saja, ibu berfikir mungkin si penjual salah menghitung uang kembaliannya.

Kali berikutnya ibu berbelanja lagi dipasar yang berbeda, saat itu ibu membeli tahu 5 buah dengan harga Rp.5000,-, ibu memberi uang pada sipenjual dengan pecahan Rp. 20.000,-, seperti sebelumnya ibu diberi kembalian uang ribuan lecek yang bergulung-gulung, saat itu ibu tiba2 saja ingin menghitungnya kembali, dan setelah dihitung ulang (dihadapan si penjual) rupanya uang hanya ada Rp. 13.000,-, tentu saja ibu menagih sisa uang kembalian yg masih kurang, si ibu penjual tahu hanya bilang "maaf, gini kalau sudah tua, lali aku..." katanya sambil tersenyum malu, ibu pun ikut tersenyum jadinya.



Berikutnya lagi, ibu membeli kain disebuah toko bahan dipasar bpp, pada awalnya si abang penjual menghargai Rp. 20.000,-/meternya, lalu ibu tawar menjadi Rp. 15.000,- , si abang bilang "18ribu ajah deh mbak" katanya. "nggak ah 15ribu aja yah" bujuk ibu, "ya sudahlah, ambil berapa meter" kata si abang sambil membentangkan kain pilihan ibu. Saat si abang penjual kain bilang "ya sudahlah.." ibu fikir sudah ada kesepakatan harga antara ibu dan penjual di harga Rp. 15.000,-/m, saat ibu memberi uang Rp. 50.000,- untuk 2 meter kain, si abang penjual memberi kembalian sebanyakRp. 14.000,-, Terang saja ibu bingung "lho koq kembaliannya segini, harusnya kan 20ribu", protes ibu, "tadi kan saya bilang satu meternya 18ribu rupiah" sahutnya membela. oh........., ibu hanya melongo dan langsung pergi.

Dan kemarin siang, saat ibu belanja lagi kepasar, abang merajuk ingin dibelikan permen disebuah toko didepan ibu, abang, adek berdiri. Saat ibu tanya harga satuannya, si ibu penjual menjawab "seribu tiga" pada permen berbentuk telapak kaki yang ibu pegang, lalu ibu bertanya harga permen loli disebelahnya yang berbeda bentuk dan kemasannya, lagi-lagi si ibu penjual menjawab "seribu tiga". Lalu ibu membawa 2 buah permen kaki dan 1 permen loli, saat itu ibu fikir harga semuanya cuma Rp.1000,- saja, untuk meyakinkannya ibu tanya kembali pada si ibu penjual "kalau dicampur gimana bu, 2 permen kaki, dan satu permen loli bulat, harganya sama..?" tanya ibu, "iya boleh, harganya sama saja". Lalu ibupun mengambil 3 permen bertangkai tersebut. Saat itu si ibu penjual disibukan dengan pembeli yang lain, akhirnya ibu menunggu beberapa saat untuk membayar ketiga permen itu. Setelah pembeli yang lain pergi ibu langsung memberi selembar uang ribuan pada si ibu penjual, sambil bilang "permennya 3 ya bu". "Wah kurang dong bu, harusnya 2 ribu bayarnya, permen yang bulat itu harganya seribu/satunya, yang kaki harganya seribu tiga.." seru si ibu penjual. "lho katanya tadi sama harganya" sahut ibu kebingungan. "nggak, permen bulat itu harganya seribuan, jadi sampean bawa satu permen kaki lagi biar genap 2 ribu" sahut sipenjual menegaskan. Oh.... , lagi-lagi ibu melongo heran.

Ada kejadian lain lagi yang bikin greget hati ibu.
Saat itu ibu dan abah sedang keluar rumah, dirumah hanya ada nenek, kakek, abang dan adek.
Ketika sedang dalam perjalanan, tiba2 ponsel ibu berdering, tertulis nama kakek dalam display ponsel tersebut. "Hallo pak ada apa..?" tanya ibu, "teteh pesen lontong sayur yah..?" tanya kakek dari ujung tlp, "lontong..??? nggak tuh pak, kenapa gitu..?" tanya ibu kebingungan. "didepan rumah ada penjual lontong, dia mau nganterin lontong pesanan teteh, banyak banget lontongnya, untuk apa teh..?" kata kakek lagi "ah...saya ga pesen lontong kok pak, ga usah diterima, saya ndak pesen apa2 hari ini" sahut ibu lagi menerangkan. Untung saja kakek menelepon ibu terlebih dahulu, kalau tidak, abah harus mengeluarkan beribu-ribu rupiah untuk mengganti pesanan yang tidak pernah ibu pesan.
Beberapa hari berikutnya, ketika ibu sampai di rumah setelah berpergian. Tiba-tiba kakek bicara "teh, tadi ada tukang servis, dia bawa mesin cuci rusak yang dibelakang rumah itu, katanya disuruh aa". Tentu saja ibu agak kaget dibuatnya, seingat ibu, abah tidak pernah bicara tentang servis mesin cuci sebelumnya. Untuk meyakinkan Ibu langsung menghubungi abah, dan yang lebih mengagetkan ibu adalah bahwa abah tidak pernah menyuruh siapapun untuk memperbaikin mesin cuci rusak dirumah.
Tidak beberapa lama kemudian orang berbeda tetapi masih menggunakan seragam yang sama datang lagi, kali ini ibu yang membukakan pintunya. Orang itu bilang, "bu saya dari toko .... servis, mau bawa kulkasnya yang rusak" katanya menerangkan kedatangannya. "maaf pak, kulkas dirumah tidak rusak, bapak salah alamat" sahut ibu. "tapi saya dapat laporan bahwa kulkas dirumah ini rusak" kata tukang servis itu lagi. "kulkasku tidak rusak pak, yang ada mesin cuci kami yang rusak tapi itupun sudah dibawa sama teman bapak" sahut ibu agak ketus, "oya ngomong2, darimana bapak tahu mesin cuci kami rusak..?" lanjut ibu lagi sambil melihat tajam kearah si tukang servis didepannya. "emm... tadi kami mendapat laporan dari... aduh siapa yah namanya..?" sahut tukang servis didepan ibu gagap. Belum lagi ibu bicara, ponsel ibu berdering, rupanya abah yang menelepon "bu, barusan toko.... servis, menelepon katanya mesin cuci kita mau dibetulin atau nggak..?" tanya abah, wah ibu jadi bertambah bingung, tetapi akhirnya ibu ngambil keputusan untuk tidak diperbaiki, karena berbagai alasan. Setelah itu akhirnya tukang servis dan mobilnya pergi. Saat itu ibu tidak bisa berfikir banyak, yang ada ibu sudah mengikhlaskan kalau seandainya mesin cuci rusak itu tidak kembali. Sore harinya, mobil servis barang2 elektronik itu datang lagi sambil membawa mesin cuci rusak. Si tukang servisnya bilang "maaf ya pak, kami salah alamat". (terakhir ibu tahu bahwa tukang servis tau nomor ponsel abah dari kakek).
***
Bukan uang seribu, dua ribu yang ibu permasalahkan, tetapi kejujuran, keterusterangan yang ibu jungjung tinggi. dan sekarang ibu jadi lebih berhati-hati kalau belanja atau apapun itu, dan satu yang pasti ibu tidak akan pernah mendatang lagi penjual yang sama yang -menurut ibu- telah melakukan ketidak jujuran atau ketidak terusterangan.

Baca selengkapnya......

Senin, Januari 7

Sebuah keinginan

Ibu teringat keinginan ibu waktu dulu, saat itu ibu masih sangat kecil, saking kecilnya sampai tangan ibu-pun belum bisa menjangkau rak lemari yang berada dikamar apa dan mamah. Menurut ibu saat itu, banyak benda2 menarik didalam rak lemari tersebut, mulai dari peniti, benang, majalah bergambar pesawat, dan banyak hal lainnya yang selalu membuat ibu ingin selalu memanjat lemari itu. Ada satu keinginan ibu saat itu ; ibu ingin tangan ibu cepat tumbuh panjang hingga ibu bisa menjangkau kedalam lemari tersebut tanpa harus repot menggeser bangku2 berat didekatnya sebagai pijakan ibu memanjat.
Dengan seiring waktu, tanpa ibu sadari, untuk mengambil benda2 menarik dalam rak lemari itu ibu hanya cukup menjulurkan tangan ibu saja. Dan saat ibu menyadarinya ibu sangat senang sekali, dan saat itulah ibu mulai memikirkan hal lainnya.
***



Ketika ibu senang dengan barang2 nya mamah, hampir setiap hari ibu selalu menggunakan barang2 kepunyaan mamah, ntah itu bajunya mamah, sepatu hak tingginya, lipstik, bahkan -maaf- bh mamahpun ibu pakai. Dengan bergaya seperti mamah, ibu merasa sudah menjadi orang besar. Saat itu ibu berfikir "gimana rasanya punya dada besar seperti mamah ya? pasti menyenangkan".
***
Memasuki tahun kedua di sekolah menengah pertama, dada ibu mulai terasa sakit, apalagi saat tersentuh, bahkan sepelan apapun, saat itu mamah membelikan ibu miniset kecil berwarna peach beberapa buah, mamah bilang "dadamu sudah tumbuh teh", dan saat itulah ibu baru merasakan arti mempunyai dada bagi seorang perempuan.

Ketika itu ibu kembali berfikir hal lainnya, hal yang betul2 ibu tidak tahu jawabannya. Dan ibu bersemangat untuk mengingat-ingat hal itu, agar dimana suatu saat ibu mengalaminya ibu bisa menjawab semua teka-teki itu. Saat itu berfikir "gimana rasanya menjadi seorang pengantin, dan gimana rasanya mempunyai perut yang sangat besar (hamil)".
***

8 tahun kemudian, ketika ibu duduk dipelaminan, tunduk dalam kebahagaiaan dan rasa haru yang mendalam, ibu kembali teringat akan keinginan ibu dulu. Saat itu ibu tersenyum karena tinggal 1 lagi pertanyaan yang ibu belum tahu jawabannya.
***
Masuk umur trimester ke-3 kehamilan, perut ibu terlihat sudah semakin besar, dan janin kecil didalamnya semakin lincah bergerak, saat itu hanya satu keinginan ibu, ibu ingin segera melihat dan menimang mahluk kecil yang ada dalam perut ibu tersebut. Dan ibu menjadi sangat tidak sabar karenanya.
***
Mahluk kecil itu sekarang telah tumbuh menjadi anak yang sempurna, dan mempunyai nama, hanya satu keinginan ibu sekarang, ingin melihat dan mendampinginya menjadi manusia dewasa yang berbahagia dan berguna. ***

Baca selengkapnya......

Selasa, Januari 1

Selamat Tahun Baru 2008

Detik-detik menjelang pergantian tahun ibu lalui dengan biasa saja, diluar rumah terdengar bunyi kembang api menggelegar diudara berkali-kali, letupannya yang berwarna-warni membayang dijendela sebelah kiri sofa tempat ibu duduk, sesekali ibu memperhatikan cahaya kembang api dari balik jendela. Sayang keindahan kembang api itu hanya ibu saja yang menikmatinya, abah, adek, abang, nenek dan kakek telah terlelap tidur sejak tadi sore.

Sejak jam 8 malam, keluarga somantri memang sudah keluar rumah, pergi kelapangan merdeka pertamina balikpapan untuk menikmati suasana malam menjelang tahun baru. Dan baru pulang sekitar jam 10 malam, setelah semua orang merasa ngantuk, terkecuali ibu.

Tadi siang ibu memang tidur lama sekali, akhirnya malam ini ibu tidak bisa tidur, untuk menghilangkan rasa bosan sendirian, ibu surfing di internet, sambil sesekali ngotak-ngatik blog yang ibu buat. Sesuatu hal yang membuat kepala ibu puyeng, soalnya ibu tidak begitu tahu tentang hal yang berkaitan dengan blog atau situs. Bisa ditebak setelah sekian jam berkutat dengan blog, hasil akhirnya masih seperti itu juga. Untung saja warna-warni kembang api dilangit cukup menghibur hati ibu yang sedang kebingungan dan sedikit putus asa itu.
Tidak terasa waktu terus berlalu, dan pesta kembang api itupun telah usai. Suasana kembali hening dan gelap, ibu menutup notebook-nya, dan berusaha untuk memejamkan matanya, agar bisa kembali beraktifitas di hari baru, ditahun yang baru.
Selamat Tahun Baru 2008...!!!

Baca selengkapnya......

Jumat, Desember 21

Pindah Rumah

Sudah satu bulan keluarga somantri tinggal dirumah barunya.
BDI, Balikpapan, Kalimantan Timur.
Letaknya tidak begitu jauh dari pusat kota, ke bandara juga lumayan dekat, kemana-mana dekat, kepantai juga, oh..oh senangnya.
Tidak seperti waktu tinggal di Duri, kalau ingin menikmati pusat kota, harus tabah melalui perjalanan darat selama kurleb 3 jam, melewati daerah yang gersang, dan rumah-rumah kumuh ditengah ladang yang tandus, belum lagi jalannya yang banyak berlubang, ughh... belum apa-apa sudah cape duluan jadinya.
(bersambung)

Baca selengkapnya......

Selasa, September 18

Kabar dari abah

Senin siang, saat abah pulang untuk istirahat jam makan siang, abah memberi kabar "bu surat pindah kerja-nya sudah keluar, tadi abah dipanggil HR perusahaan, dan tgl efektif kerjanya yaitu tanggal 1 okt" sahutnya, "tapi abah sudah kirim email (pd boss baru-nya abah), agar hari kerjanya bisa diundur setelah habis lebaran" lanjut abah lagi.

***

Akhirnya berita itupun datang juga, setelah sekian lama ibu (dan tentunya abah juga) merasa diombang-ambing oleh ketidakpastian kepindahaan kerja abah ke balikpapan. Tidak beberapa lama, telepon rumah berdering, "mbak, jadi suamimu, ikut pindah juga tho ke balikpapan" tanya ghesti temannya ibu terdengar ujung telepon, "soalnya tadi suamiku bilang, saat di kantor HR ketemu sama mas aprie, duh koq ndak bilang-bilang sih mau pindahan, kata suamiku efektif kerjanya tanggal 1 okt, sama ya mbak...? lha pindahan saat puasa koq ya ribet ya, itu bisa diundur nggak sih?... dst.. ", ceroscos ghesti dengan logat jawanya yg kental. Dengan tidak begitu yakin ibu berusaha menjawab pertanyaan itu. Tidak beberapa lama kemudian telepon kembali berdering, dan lagi-lagi dari teman ibu, yang memberi ucapan selamat atas kepindahannya itu. Wah duri memang kecil, kabar sebesar apapun pasti cepat tersebar.

Baca selengkapnya......

Jumat, September 14

Puasa pertama keluarga somantri

Jauh-jauh hari ibu sudah banyak bercerita tentang puasa pada bang fathir, tujuannya agar bang fathir tahu dan tertarik untuk menjalaninya. Dan responnya sangat positif, bang fathir tampak senang dan ga sabaran untuk segera ikut berpuasa, "jadi aku boleh ga makan dan minum ya bu..?" tanyanya sumringah, "iya...bang..., kita tidak boleh makan, minum, juga tidak boleh marah2 sampai maghrib, tapi kalau bang fathir mah gapapa sampai dzuhur saja puasanya" sahut ibu menerangkan, "nggak ah.... aku mau puasa sampai maghrib juga..." katanya lagi sambil terlihat sedikit melamun, lalu mulutnya tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang kecil-kecil. Tentu saja bang fathir senang ketika diceritakan puasa, karena selama ini bang fathir selalu disuruh terus -bahkan dengan sedikit paksaan- kalau makan atau minum susu, jadi fikirnya dengan berpuasa bang fathir bisa dengan bebas bermain tanpa harus makan dan minum :)

***

Hari rabu, sehari sebelum puasa ramadhan, bang fathir tidak biasanya mau tidur siang, oh mungkin karena abang ingin ikut teraweh bersama di mesjid ushuludin kali, fikir ibu.
Dan memang selepas shalat maghrib, setelah abang fathir menyelesaikan makan malamnya, abah, ibu, abang dan adek pluzt oman, sudah bersiap-siap untuk sholat taraweh di MAU duri. Sajadah, mukena, botol susunya bang fathir, jus buah nya adek, baju ganti untuk abang dan adek, handuk kecil, semuanya sudah tersimpan rapi dalam tas ibu. "sekalian aja bu bawa kasur-nya juga.." canda abah, ketika melihat bawaan ibu yang berjibun. "wah kalau ada kasur seukuran adek, ibu mau bawa juga tuh hehe.." jawab ibu sambil tersenyum.



Tiba di MAU, azdan isya mulai berkumandang di speaker mesjid tersebut. Adek melonjak-lonjak gembira dipangkuan oman ketika mendengarnya, selama ini adek, sering mendengar azdan tersebut di televisi saja. Maklumlah ini pertama kalinya adek dibawa kemesjid. Mudah-mudahan adek tidak nangis saat sholat nanti, harap ibu berbesar hati.

ketika abah, abang dan oman mulai berderet rapi di shaft laki-laki, adek mulai tampak rewel, "naaaa...naaaaa...!!" jeritnya sambil menunjuk kearah tempat laki-laki sholat. "adek disini aja sama ibu" bisik ibu, tapi bukannya diam, adek malah menjerit nangis ketika ibu pangku untuk diajak sholat isya berjamaah. karena ibu takut menggangu jamaah lainnya oleh tangisan adek, akhirnya ibu mengurungkan niatnya untuk sholat berjamaah dimesjid, kemudian ibu memutuskan untuk pulang lebih awal, meninggalkan abah, abang dan oman yang sedang khusuk sholat berjamaah. Ibu tampak sedikit kecewa tapi mau gimana lagi, adek rupanya belum bisa diajak kemesjid :(

***

jam 3. 30 ibu sudah bangun untuk mempersiapkan sahur, ibu hanya tinggal memasak sayurannya saja, karena lauknya sudah ibu buat dari kemarin sore, jadi hanya tinggal dihangatkan saja.
tidak beberapa lama, satu-persatu penghuni KRT 313 mulai bangun, dengan wajah yang masih terlihat ngantuk, semuanya mulai menghabiskan sahurnya masing-masing. Setelah menghabiskan sahur-nya, ibu bergegas kekamar tidur untuk membangunkan bang fathir. "bang bangun, kita sahur sekarang, katanya abang mau puasa" panggil ibu sambil menepuk-nepuk pipi bang fathir pelan. ughhh.... gumam bang fathir tetap menutup matanya rapat. Karena tidak juga mau bangun, akhirnya ibu menggendong bang fathir menuju tempat makan.

"aku nggak mau emam bu..., ngantuk.."sahut bang fathir sedikit merujuk, matanya sesekali masih ditutupnya rapat. "kalau nggak mau makan dan minum, besok abang akan lemas", bujuk ibu "pilih deh, mau mam nasi atau mam roti aja dicelup susu..?" lanjut ibu lagi. "hhmm.... mam roti aja lah..".
Akhirnya dengan susah payah bang fathir mulai memasukan sedikit-demi sedikit roti dan susu kedalam mulutnya. Karena jam menunjukan hampir menjelang adzan shubuh, akhirnya acara makan sahur-nya bang fathir ibu hentikan, padahal saat itu abang hanya baru menghabiskan sepotong roti dan segelas susu saja. "ingat ya, besok abang mulai berpuasa, jadi kalaupun haus ataupun lapar, abang tidak boleh makan dan minum ya.." sahut ibu mengingatkan lagi. "sebelum tidur lagi, ayo kita sholat subuh dulu bareng-bareng.." ajak ibu sambil menuntun bang fathir kearah kamar mandi.

***

Jam 9 pagi, abang sudah duduk didepan tv menonton channel kesukaannya, "bu tenggorokannku sakit, perutnya juga sakit, sepertinya abang mau muntah.." seru bang fathir agak sedikit serak. "sabar ya, baru juga jam 9, nanti kalau sudah jam 12, abang boleh buka.." jawab ibu tidak menghiraukan bang fathir yang mulai merengek-rengek, minta minum. tidak beberapa lama, abang fathir tampak berlari kearah kamar mandi, terdengar abang memuntahkan isi perutnya. Ibu kaget dan langsung menghampiri bang fathir, saat ibu pegang tangan dan keningnya, terasa panas. Wajah bang fathir terlihat pucat dan tampak lemas, ibu langsung memberi segelas air hangat. setelah itu ibu langsung menghubungi medical untuk membuat janji bertemu dengan dokter spesialis anak.

***

"Jangan berpuasa dulu ya bu, anti biotiknya dihabiskan, saya sertakan juga obat anti mual, dan obat maag -nya", "fathir jangan makan yg dingin2 dulu ya, jangan dulu makan permen juga, banyak istirahat..dst.." dokter sustiyanto menjelaskan pada bang fathir. "iya terimakasih dok, assalamu'alaikum..." lalu ibu dan abang berpamitan.
"huhu...tanganku sakit.." rengek bang fathir sambil memegangi tangannya yang ditempeli kapas dan plester sehabis diambil darah dilaboratorium. Menurut hasil test darah, leukosit nya bang fathir menunjukan angka 9800, ibu tidak tahu apa artinya itu, tapi dokter sus bilang, leukositnya abang cukup tinggi, jadi abang harus minum antibiotik dengan dosis yang lebih tinggi dari sebelumnya.

***

sesampainya dirumah, abang muntah lagi, setelah itu abang ibu beri obat, dan langsung tertidur lelap. Malam harinya, abang merajuk minta ikut sholat terawih di mesjid lagi, "nanti kalau abang sudah sembuh benar ya.." hibur abah. akhirnya malam itu abang fathir dan adek tidur lebih awal.
"bu kalau aku ga puasa, nanti pahalaku sedikit dong.." sahut bang fahtir suatu saat. "Tidak, karena abang kan lagi sakit, jadi kalau orang sedang sakit boleh tidak berpuasa, lagian sakit juga bisa menghapuskan dosa-dosa asal saat sakitnya bersabar, tidak suka marah-marah.." sahut ibu menerangkan. "oh..gitu ya bu.., jadi nanti aku nggak punya dosa ya bu..." sahut bang fathir matanya menerawang ntah kemana, tapi lagi-lagi mulutnya tersenyum lebar, memperlihatnya giginya yang hampir ompong :)

Baca selengkapnya......

Senin, September 3

treadmill ibu

Bulan april lalu abah beliin ibu treadmill di counter fitness di mall ska pekan baru, harganya lumayan mahal -menurut ibu, tapi karena ibu memang ingin sekali punya treadmill, dan kebetulan ibupun baru dapat arisan jula-juli, jadi abah cuman tinggal nambahin kekurangannya saja. Awalnya ibu rajin menggunakan alat olahraga itu, karena waktu itu motivasi ibu ingin mengurangi berat badan sangat kuat, maklum lah ibu ingin terlihat sedikit lebih kurus saat liburan di pulau jawa, jadi biar ga malu kalau ketemuan dengan teman-teman ibu :-), dan alhamdulillah, berkat kerja keras ibu selama dua bulan menggunakan treadmill juga diselingi dengan berenang, dan sepedahan (fhhhh..), berat ibu bisa turun 5 kg. Senangnyaaa.....^_^



Selain ibu yang bergembira punya treadmill, abang fathir pun ikut senang dengan adanya alat olahraga itu di rumah, bahkan tidak jarang ibu dan abang rebutan memakainnya. Adek juga sering main-main diatasnya, ntah itu sambil main mobilan, atau kadang cuman duduk-duduk saja.
***
Akhir agustus kemarin, abah sudah menerima kabar dari atasannya, bahwa lamaran abah yang di balikpapan sedang dalam proses, dan mulai tanggal 1 oktober abah sudah harus masuk kerja dikalimantan sana.
Antara senang dan sedih ibu mendengarnya, senangnya ibu bisa keluar dari kota duri dan mendapat pengalaman baru ditempat lain, sedihnya ibu harus meninggalkan semua kenangan yang sudah ibu alami di duri.
Setelah mempertimbangkan berbagai alasan, akhirnya ibu dan abah memutuskan, bahwa keluarga pindah rumahnya di awal november saja, saat itu abah memberi ide untuk menjual treadmill dan beberapa peralatan yang sekiranya tidak terpakai lagi, dengan berbagai alasan pindahannya bisa lebih praktis dan tidak menyita tempat baru kami nanti. Setelah ditimbang-timbang, akhirnya ibu pun setuju untuk menjual barang-barang itu termasuk treadmill ibu yang baru ibu beli 5 bulan yang lalu.
***
Tadi sore, calon pembeli treadmill-nya ibu datang untuk melihat-lihat barangnya. Setelah dicoba dan diperiksa calon pembeli itu, akhirnya treadmill itupun terjual sudah.
Sambil menerima uang DP, abah dan ibu berjanji akan segera mengirimkan treadmill itu besok malam, dan si pembeli itupun pulang.
Saat itu bang fathir masih asyik main-main diatas treadmill yang sekarang sudah terjual. "bang sudah ya, jangan dipakai lagi, kan treadmill nya sudah dijual" sahut ibu mengingatkan bang fathir. tiba-tiba bang fathir menjawab, "nggak mauu, treadmillnya nggak boleh dijual, nanti kita nggak punya lagi.." jawab bang fathir sendu sambil memegang erat treadmill itu.
***
"Bah kalau treadmill nya ga jadi dijual gimana..enak nggak yah sama orang itu? uang dp nya kita kembalikan saja" sahut ibu pada abah sedikit berkaca-kaca, masih terbayang-bayang kata-kata bang fathir oleh ibu, "nggak enak lah bu sama orangnya, nanti kalau ada rejeki, kita beli lagi ya" sahut abah menghibur ibu.
Tapi sampai sekarang ibu masih bersedih, biarpun cuman 5 bulan ibu dan keluarga menikmati treadmill itu, tapi ibu merasa benda itu sudah jadi bagian dari hidup keluarga ibu.
"maafin ibu ya bang, insyaallah kalau ada rezeki lagi, kita beli treadmill lain ditempat baru" bisik ibu dalam hati sambil mencium kening bang fathir yg sudah terlelap tidur.

Baca selengkapnya......