DaisypathAnniversary Years Ticker
Lilypie 6th to 18th PicLilypie 6th to 18th Ticker
Lilypie 3rd Birthday PicLilypie 3rd Birthday Ticker

Rabu, Juli 23

Nonton PON XVII

Baca selengkapnya......

Minggu, Juli 20

Cita-cita..

Semua orang pasti pernah punya cita-cita, begitupun dengan ibu ketika masih kecil dulu. Ibu masih ingat berbagai cita-cita yang pernah ibu impikan, mulai dari ingin menjadi polisi lalulintas, karena saat itu ibu sedang senang-senangnya mengikuti latihan Polisi Keamanan Sekolah (PKS) sebagai kegiatan ekstra kurikuler sekolah. Kemudian cita-cita ibu berubah lagi yaitu ingin menjadi detektif cilik karena ibu begitu terpesona oleh cerita 5 Sekawan dan cerita detektif lainnya yang sering ibu baca. Lalu ibu pernah bercita-cita menjadi seorang pengacara karena waktu itu guru ngaji ibu pernah bercerita, katanya ; ada 2 golongan manusia yang pertama akan masuk syurga yaitu pemimpin yang bijak, dan hakim yang adil.



Saat itu ibu berfikir alangkah menyenangkan bila ibu bisa menjadi salah satu orang pertama yang bisa masuk syurga, dan akhirnya ibu memilih mejadi pengacara (saat itu ibu berfikir untuk menjadi hakim harus melalui tahapan sebagai pengacara terlebih dahulu) sebagai cita-cita ibu dimasa depan. Hanya cita-cita inilah yang selalu mendapat komentar dari apa (panggilan bapak-nya ibu), apa selalu bilang "jangan pernah bercita-cita menjadi pengacara, hakim, dan sejenisnya... karena berat pertanggung jawabannya diakhirat nanti.." tegas apa setiap kali ibu berbicara tentang itu. Sungguh sampai detik ini ibu masih belum mengerti arti dari ucapan apa. Mungkin ibu harus menjadi seorang pengacara terlebih dahulu agar memahami makna pesan apa tersebut. Seiring waktu ibu pernah juga bercita-cita menjadi dokter hewan, karena ibu selalu sedih ketika harus melihat ayam atau kucing peliharaan ibu jatuh sakit. Pernah juga bercita-cita menjadi wartawan, karena ibu membayangkan bisa berpergian kemana-mana mencari berita. Dan cita-cita yang agak bertahan lama yaitu ibu ingin menjadi ahli pertanian, karena ibu senang dengan suasana pedesaan, ibu senang bercocok tanam. Biarpun cita-cita ibu tidak ada satupun yang terwujud, tapi ibu tetap senang. Karena setidaknya ibu pernah berkeinginan sesuatu yang menyenangkan.


Lain halnya dengan cita-cita bang fathir, suatu saat abang pernah berkata "aku ingin menjadi supir truk balak .."(truk besar pengangkut kayu-kayu gelondongan), setiap ibu tanya cita-citanya bang fathir. "karena truk balak itu mobil yang hebat, kuat, dan besuaarrr..." lanjutnya lagi. Mendengar itu biasanya ibu akan berkomentar " kalau begitu abang harus pintar dan kuat, karena menyetir (mengemudikan) mobil besar itu lebih susah, butuh tenaga yang besar, jadi biar bisa menyetir abang harus banyak belajar, untuk menjadi kuat abang harus banyak makan yang bergizi..". Lain waktu abang pernah bercita-cita ingin menjadi supir mobil molen (mobil pengaduk semen), alasannya tetap sama karena mobil molen itu mobil yang hebat, besar dan kuat. Abang memang mengidolakan mobil besar, semua mainannya didominasi dengan mobil jenis besar. Pernah juga abang bercita-cita, "bu, kalau sudah besar aku ingin jadi masinis kereta api saja lah, soalnya kereta api itu hebat, bisa mengangkut banyak orang.." katanya suatu saat pada ibu, lagi-lagi ibu akan mengomentari dengan komentar sebelumnya. Lalu pernah juga abang fathir bercita-cita ingin menjadi pilot setiap selesai berpergian, alasannya lagi-lagi karena pesawat itu sangat hebat, besar dan kuat. Tidak berapa lama kemudian tiba-tiba abang ingin menjadi astronot setelah selesai dibacakan tentang antariksa. Lalu pernah juga abang bercita-cita ingin menjadi peneliti ketika abang fathir selesai membuka-buka buku ensiklopedia-nya, lalu pernah juga bercita-cita menjadi tukang bangunan setiap selesai nonton serial " Mega structure". Pernah juga abang bercita-cita jadi tukang parkir, alasannya, "enak..., banyak yang ngasih uang.." katanya sambil tertawa senang.


Suatu hari sepulang hari pertama bersekolah di SDIT Istiqomah abang berkata "bu, aku ingin jadi ustadz saja lah.." seru bang fathir sambil membuka baju seragamnya, tentu saja ibu agak sedikit kaget, karena cita-cita yang ini agak berbeda dengan bidang sebelumnya. "soalnya biar nanti aku bisa masuk syurga.." sahut abang lagi. Ibu hanya tersenyum mendengarnya, ibu tidak pernah mempersoalkan setiap cita-cita yang pernah diucapkan abang fathir. Paling ibu akan berkomentar hal yang sama yaitu : "abang harus pintar, dan kuat". Biarlah abang fathir memiliki segudang cita-citanya, karena setiap memikirkan cita-cita pasti sangatlah menyenangkan.

Baca selengkapnya......

Rabu, Juli 16

Hari pertama masuk sekolah (pagi yang sibuk)

Pagi, jam 5.15, bang fathir sudah bangun, begitu juga adek, setelah cuci muka abang langsung ibu suapin, lauknya hanya dengan nugget ayam seperti yang dipesan abang sebelumnya. Tidak biasanya abang sarapan lebih cepat, mungkin abang sudah tidak sabaran untuk segera berangkat sekolah fikir ibu. Sejak malamnya tidur abang memang tidak begitu lelap, beberapa kali abang fathir bangun sambil bertanya hal yang sama, "bu, sudah pagi belum..? katanya abang mau sekolah hari ini..?" sahutnya sambil mengedip-ngedipkan mata menahan kantuk, "belum, masih gelap, bobo lagi aja nanti ibu bangunkan kalau sudah pagi.." sahut ibu sambil melihat jam dinding yang terpasang ditengah ruangan.



Jadi ketika ibu bangunkan, bang fathir langsung menurut saja tanpa ada protes ataupun keluh kesah sedikitpun :-)




Setelah selesai sarapan, abang langsung mandi bareng abah lalu sholat shubuh, sementara ibu nyuapin adek yang sejak dari tadi pagi sudah ikut-ikutan bangun pagi. Tidak begitu susah kalau nyuapin adek, sebentar saja, semangkuk bubur susu hangat sudah adek habiskan. Beres nyuapin dan membersihkan adek, ibu langsung membuat sarapan untuk abah, sepiring mie goreng dengan telor ceplok goreng, dan memberi topping pada donat yang akan abang fathir bawa kesekolah. Sambil menunggu waktu berangkat sekolah, abang nonton film kartun di channel favoritnya sambil tidur-tiduran.


Jam 7 kurang 15 menit, semuanya sudah siap, termasuk ibu yanga akan mengantar abang kesekolah pagi itu. Cuaca sedikit gelap, awan hitam bergulung-gulung diatas kota balikpapan, "wah akan hujan besar nih hari ini.." sahut abah sambil memperhatikan awan-awan tersebut dari teras depan rumah. "abah berangkatnya naik motor saja lah, ibu dan abang naik mobil saja, kalau abah yang bawa mobil nanti takut siang abah ga bisa jemput abang, hari ini abah harus nyelesaikan kerjaan", sahut abah sambil bergegas menghidupkan motornya takut hujan keburu turun, "abah usahakan nengok abang di sekolah, tapi kalau tidak hujan ya...". sahut abah lagi sambil berpamitan pada ibu dan abang. Tidak berapa lama ibu dan abangpun menyusul abah pergi, menuju SDIT Istiqamah, sekolah barunya abang fathir. Sementara adek ditinggal dirumah bersama si mbak, soalnya adek sudah terlihat ngantuk selesai mandi pagi tadi, biarlah adek melanjutkan tidurnya lagi dirumah fikir ibu.



Sampai di sekolah, tempat parkir sudah penuh dengan mobil yang mengantar jemput anak sekolah, maklum dihari pertama masuk sekolah sepertinya semua orang tua ingin mengantar anaknya masing-masing, termasuk ibu, jadi ibu harus memarkir mobil agak lebih jauh jadinya.
Hujan mulai turun rintik-rintik, abang dan ibu bergegas masuk kedalam gedung sekolah, bergabung dengan anak murid baru dan para pengantarnya lainnya. 'selamat ya, abang sudah masuk SD.." bisik ibu sambil menjabat tangan abang dalam rangka membesarkan hati abang fathir yang sedikit terlihat gugup. Abang cuman tersenyum.



7.30, semua anak murid baru berbaris didepan kelasnya masing-masing, termasuk abang fathir yang terlihat asyik memperhatikan semua teman-teman barunya itu.
Setelah semua murid masuk kelas, ruang kelas langsung ditutup oleh ibu guru-nya. Terpaksa para pengantar hanya bisa melihat anaknya masing-masing lewat jendela kelas yang letaknya lumayan tinggi, ibu saja sampai harus berjinjit-jinjit agar bisa melihat abang fathir didalam kelas. Untung saja abang fathir terlihat bisa menyesuaikan dengan suasana barunya, soalnya ada beberapa anak perempuan yang mulai menangis histeris memanggil ibunya masing-masing saat pintu kelas ditutup. Karena terlihat berjalan dengan baik, maka ibu memutuskan pulang lebih awal, lagian waktu menunjukan jam 9 pagi. Saat itu hujan turun dengan deras. Ibu sudah khawatir terjebak banjir saat pulang.




Ditengah perjalanan, beberapa ruas jalan memang dipenuhi air hujan yang sudah tidak tertampungi oleh saluran air disekitarnya. Untung saja tingginya hanya sampai semata kaki, tapi yang membuat resah yaitu kemacetan yang ditimbulkan akibat salah satu kegiatan PON saat itu. rupanya disaat bersamaan, hari itu adalah hari terakhirnya kegiatan PON di Balikpapan, yaitu pertandingan gerak jalan drumband. jadi 1 ruas jalan terpaksa ditutup sementara waktu selama kontingen drumband tersebut melalui jalan tersebut. bisa dipastikan Jl. Sudirman dan jalan-jalan disekitarnya macet total. Sudah 1 jam, ibu dan para pengguna jalan terjebak macet, padahal biasanya waktu tempuh antara rumah dan sekolah abang hanya sekitar 20 menit. Setelah semua kontingen PON tersebut lewat didepan jalan yang polisi blokir, arus lalulintas kembali normal.




Saat ibu berada dipertigaan menuju Jl. MT.Haryono, depan jalan tersebut telah terpasang pagar blokir yang menunjukan dilarang melewati jalan tersebut dikarenakan banjir. Padahal untuk sampai dirumah, ibu harus melalui jalan tersebut, lalu ibu memutuskan untuk membeli bensin terlebih dahulu, sambil menunggu hujan reda dan berfikir kedepannya. Saat itu ibu bertelepon ria dengan abah, abah menyarankan agar ibu pulangnya ke pasir ridge saja (ke kantornya abah) yang letaknya memang lebih tinggi. Tapi karena ibu teringat terus pada adek yang sudah ibu tinggal agak lama, akhirnya ibu memilih pulang kerumah, walaupun harus melalui Jl. MT. Haryono.



Ternyata banjir yang menggenangi jalan MT. haryono bagian depan hanya setinggi setengah lutut orang dewasa saja, sedangkan bagian yang terparah yaitu arah menuju kantor PDAM, banjirnya sampai setengah badan orang dewasa, untung saja ibu tidak harus melalui kantor PDAM untuk mencapai rumah. Jadi walaupun sambil sedikit gemetaran dan penuh keringat, tapi akhirnya ibu bisa membawa mobil sampai dirumah dengan selamat. Fhh..


Baca selengkapnya......

Selasa, Juli 8

Liburan sekolah (nonton PON XVII - angkat besi)

Nggak ada rencana keluar kota liburan sekolah akhir tahun kali ini, alasannya biasa : bokek, tapi abah tetap masih memberi pilihan, mo liburan ke jawa tapi lebaran stay di balikpapan, atau liburan nggak pergi kemana-mana tapi lebaran bisa pulang kampung alias mudik, tentu saja ibu memilih mudik dan membiarkan impian jalan-jalan keluar kota ditunda sementara waktu.




Untung saja, kegundahan hati ibu tidak berlangsung lama ketika ibu tahu di Balikpapan ada beberapa venue, tempat dilangsungkannya beberapa pertandingan olahraga, "horeeeeeyyy.... liburan kita nonton PON aja bang..." teriak ibu girang. Abang dan adek ikut-ikutan berteriak senang, "PON itu apa sih bu..?" tanya bang fathir pada akhirnya, dan ..bla..bla...bla... ibu menjeleskan sekilas tentang PON (sepengetahuan ibu saja), "asyiiikkkk abang mau nonton PON...." seru abang setelahnya, "adek mau totoonnn....." teriak adek tidak kalah nyaring. ibu dan abah cuman senyum-senyum aja melihatnya.

Hari pertandinganpun tiba, itupun setelah tahu dari jadwal pertandingan di balikpapan yang abah copy dari internet beberapa hari sebelumnya. Untuk ukuran kegiatan akbar sekala nasional, PON XVII ini sepertinya tidak begitu menggema dibalikpapan, ntah ya kalau di tempat lainnya. Sungguh sayang, publisitas tentang PON tidak seheboh dana yang dikucurkan untuk membuat beberapa gelanggang olahraga baru yang megah nian. Padahal pastinya pemerintah sudah mengeluarkan bermilyar-milyar rupiah untuk membiayai PON kali ini, kabarnya saat pembukaan PON-pun acara terkesan hambar, padahal dibuka langsung oleh Presiden RI lho.

Di Balikpapanpun promosi hanya terbatas pada spanduk yang dipasang dibeberapa ruas jalan, itupun hanya berisi motivasi untuk para atlet yang bertanding, tidak disebutkan venue cabang olahraga yang dipertandingkan, apalagi jadwal kegiatannya, jadi bagaimana masyarakat tahu dan peduli akan keberadaan pertandingan2 tersebut?

Tidak semua orang sempat membaca koran, tidak semua orang mampu mengakses internet, jadi alangkah baiknya kalau ada pemberitahuan ntah itu berupa spanduk, atau leaflet yang mempromosikan kegitan tersebut, apalagi ditambah kerjasamanya dengan berbagai radio swsta tentu masyarakat akan lebih antusias menyambutnya. Andai juga disediakan shuttle bus gratisan bagi yang akan nonton PON pasti lebih seru jadinya... akh jadi ngelantur deh.
Menjelang jam 9 pagi, ibu, abang, dan adek sudah siap berangkat nonton, agendanya hari itu adalah nonton pertandingan angkat besi di Gedung Hevindo, tidak jauh dari rumah, kurang lebih 10 menit saja kalau naik kendaraan.
Sampai ditempat, orang sudah banyak berkerumun saat itu memang sedang ada atraksi tari daerah. Karena tidak boleh parkir didekat gedung hevindo, akhirnya ibu memarkirkan mobil diplataran parkir gedung PLN, lumayan jauh juga, kurang lebih 300 meter-an dari tempat acara berlangsung.
Gedung Hevindo merupakan gedung olahraga yang sengaja dibangun untuk PON XVII, bangunannya cukup megah, letaknyapun lumayan strategis, dipinggir jalan besar MT. Haryono. Gedung tersebut hanya diperuntukan bagi pertandingan angkat berat dan angkat besi saja. Karena didalam gedung masih sangat lengang, jadi ibu, abang, dan adek memilih tempat duduk dibarisan paling depan penonton. Berbagai spanduk sponsor terpajang disekeliling ruangan, bendera dari berbagai kontingen yang ikut, dan bendera warna-warni lainnya ikut menyemarakan gedung baru tersebut. Para panitia dan official penyelenggara PON terlihat sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Beberapa kamera dari stasiun tv dan tv lokal berdiri ditempat strategis. Para atlet, pelatih dan supporternya masing-masing, terlihat bergerombol, duduk-duduk santai sambil sesekali bertelepon ria. Ibu, dan abang sangat antusias dan bersemangat, sedangkan adek sibuk dengan mainan ikan-ikanannya yang sengaja dibawa dari rumah. Berkali-kali abang bertanya, sambil sesekali mengomentari apa yang dilihatnya.
Jam 10.40, acara masih juga belum dimulai, para penonton yang kebanyakan rekan-rekannya atlet dan keluarganya mulai memenuhi kursi yang tersedia. Abang mulai tampak jenuh "ibu koq lama sekali sih... kapan mulainya..?" tanyanya berulang-ulang, "sabar... sebentar lagi kayaknya..." jawab ibu ga pasti, "nanti dek jam 11 dimulainya.." sahut wartawati yang duduk disebelah ibu sambil tersenyum melihat abang yang mulai banyak protes. Waks jam 11..?, duh mana adek lagi pupup pula, kelamaan nunggu bisa-bisa ruamnya kambuh fikir ibu, karena melihat abang yang mulai tambah ga sabar, dan adek yang ga bisa diam karena popoknya mulai terasa gatal, akhirnya ibu memutuskan keluar ruangan mencari kamar mandi terdekat. Dan kamar mandi di mesjid PLN lah yang ibu pilih pada akhirnya, karena KM dalam gedung hevindo diperuntukan bagi atlet dan official PON.
"ayolah pulang bu...., abang nggak mau nonton angkat besinya lagi..., mending kita main aja ke mbak alya.." rengek abang sepanjang perjalanan, bajunya basah oleh keringat. Adekpun terlihat lelah, rambutnya yang ikal ngembang jadi terlihat layu, dipenuhi oleh keringat. Udara hari itu memang sangat panas, ditambah ibu, abang, dan adek harus bolak-balik ketempat parkir. Ibu jadi tergoda ingin cepat pulang juga akhirnya. Tetapi karena tanggung capek dan ibu betul-betul ingin menyaksikan sekaligus mengenalkan pada abang dan adek secara langsung tentang moment yang hanya berlangsung 4 tahun sekali, akhirnya ibu berusaha membujuk abang. Untuk itu ibu membelikan es krim dan beberapa makanan dan minuman untuk dimakan sambil nonton pertandingan. Biarpun sesekali masih menggerutu abang akhirnya setuju juga untuk melanjutkan lagi nontonnya PON nya.
Saat masuk lagi keruangan, tempat duduk ibu rupanya sudah diisi oleh penonton lain, jadi terpaksa ibu, dan anak-anak duduk ditempat penonton bagian atas. Waktu itu beberapa lifter putri dari berbagai provinsi sudah tampil, teriakan keras penonton yang menyemangati atlet yang berjuang rupanya membuat adek ciut. Selama menonton adek memeluk erat ibu, sementara abang serius memperhatikan jalannya acara. Sambil sesekali bertanya dan berkomentar.
Mendekati jam 12 siang, akhirnya ibu memutuskan untuk pulang, padahal acara masih berlangsung, ibu merasa sudah cukup memperlihatkan pada abang dan adek kegiatan PON hari itu. Lagian sepertinya abang dan adek sudah terlihat lelah.

Baca selengkapnya......

Kamis, Juli 3

Gara2 harga gas selangit, ibu mencak-mencak...

Saat ini harga isi tabung gas nembus angka Rp. 90.000,- / 12 kg di balikpapan, kaget campur kesel jadinya, gimana nggak gitu sebelumnya harga gas cuman Rp. 60.000,-/tabung, tiba-tiba cuman selang 1 bulan aja harganya sampe melambung jauh banget, dan yang tambah bikin sebelnya yaitu karena gas susah banget dicari, udahmah mahal.... langka pula, menyebalkan...!!!




Menurutku fihak yang paling bertanggung jawab dalam hal ini adalah :

1. Pemerintah,
karena telah mencabut subsidi gas untuk kalangan industri tetapi tanpa dibarengi dengan peraturan yang jelas, menyebabkan kalangan industri memborong gas yang seharusnya diperuntukan oleh kalangan rumah tangga, yang pada akhirnya kebijakan tersebut salah sasaran, dan ujung2nya masyarakat yang dirugikan.

Solusinya :

Buat peraturan dong, buat undang-undang yang jelas, siapa-siapa aja yang berhak menerima gas yang bersubsidi dengan yang nggak, bagi yg ngelanggar termasuk semua fihak yang bekerjasama dg sipelanggar kenai hukuman yg seberat-beratnya.
  • Awasi pendistribusian gas, bagi out let gas yg nimbun or ngejual ke fihak industri, beri hukuman yg berat, cabut izin usahanya.
  • Pendistribusian gas jangan hanya dimonopoli oleh pertamina aja, cobalah terbuka bagi perusahaan lain, jadi tidak ada kata stok gas yg menipis atau macet, dengan adanya produsen lain yg berjualan akan membuat persaingan bisnis yang sehat.
  • (langkah terakhir) Stop subsidi gas!!!. artinya kalau sudah tidak ada yang disubsidi orang tidak akan ada yang nimbun, tidak akan ada yg jual keluar negeri, soal harga jadi mahal???, akh... sekarang aja yg katanya untuk kalangan rumah tangga masih disubsidi tapi nyatanya harga tetep muahaaaaaaaaaalllll benerrrr....., yang ada malah para penimbuner, fihak industri nakal, dan orang2 jahat lainnya yang ongkah-ongkah kaki menikmati subsidi gas.

    2. Penimbuner

    fihak yang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan, fihak yg ingin mengeruk keuntungan dalam penderitaan orang lain, dengan cara menimbun gas yang seharusnya mereka jual, agar langka dipasaran yang otomatis akan menaikan harga jual gas mereka, padahal para penimbun tersebut membeli gas-gas tersebut dengan harga normal pada pertamina. dampaknya banyak banget bahkan bisa ngerusak stabilitas perekonomian. Bayangin aja, kalau seandainya saya adalah sebagai penjual nasi goreng dipinggir jalan yang berjualan dengan menggunakan gas sebagai alat memasaknya yang saya beli dengan harga yang selangit, tentunya saya akan menaikan nilai jual nasi goreng yang saya buat, kalau seandainya pembeli nasi goreng saya adalah para supir angkot, atau pedagang kecil-kecilan tentunya mereka pun akan mencari uang tambahan lain agar dapat membayar nasi goreng saya yang sudah saya naikan harganya, alhasil para supir angkot and tukang jualan tersebut akan menaikan tarif ongkos angkot dan atau harga jual barang2 mereka, ujung-ujungnya semua akan kena dampak kenaikan harga diberbagai bidang hanya gara-gara harga gas yang selangit yang diakibatkan penimbuner yang ingin mencari untung.


    Nah orang-orang seperti inilah yang seharusnya diberi hukuman yang seberat-beratnya, dan dicabut izin usahanya, karena sudah merusak hak hidup orang banyak.

    Baca selengkapnya......
  • Selasa, Mei 27

    Semalam di Tenggarong





    (NB : foto jembatan diatas diambil oleh Ngakan Nyoman Maesa Yuda


    Judul diatas bukan judul sebuah lagu ya... tapi memang terinspirasi oleh lagu "semalam dicianjur", bedanya bahwa saya disini terpesona oleh kecantikan kota (pada malam hari) serta adat budayanya, dan berharap suatu saat bisa berkunjung kembali.




    Setiap mendengar kata Kutai hal yang pertama kali muncul dalam memori saya adalah kerajaannya. Dahulu kala sekitar abad ke-5 Masehi diperkirakan adanya sebuah kerajaan Hindu pertama di Indonesia yaitu Kerajaan Kutai Martadipura yang berlokasi di seberang Kota Muara Kaman, dibawah pimpinan Sang Raja Mulawarman, putra dari Raja dari Aswawarman, cucu dari Maharaja Kundungga. Hal ini bisa dibuktikan dengan ditemukannya 7 buah prasasti yang ditulis diatas yupa (tugu batu) menggunakan bahasa sansakerta dengan tulisan huruf pallawa.

    Pada abad berikutnya, sekitar awal abad ke-13, berdirilah sebuah kerajaan baru di Tepian Batu atau Kutai Lama yang bernama Kerajaan Kutai Kartanegara dengan rajanya yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325).


    Dengan adanya dua kerajaan ini dikawasan Sungai Mahakam tentunya menimbulkan perselisihan diantaranya. Yang pada puncaknya sekitar abad ke-16 terjadilah peperangan yang pada akhirnya dimenangkan oleh Kerajaan Kutai Kartanegara pada kepemimpinan Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa. Raja akhirnya menamakan kerjaan taklukannya itu menjadi Kerajaan Kartanegara Ing Martadipura.

    Sesuai dengan perkembangan berikutnya, ketika Islam masuk ke wilayah Kalimantan sekitar abad ke-17. Kerajaan Kutai menerima dengan baik ajaran ini. Selanjutnya munculah nama-nama Islami dalam anggota keluarga kerajaan. Sebutan Rajapun berubah menjadi Sultan. Sultan yang pertama kali menggunakan nama Islam adalah Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778).

    Akh.. tapi saya tidak ingin membahas lebih jauh tentang sejarah Kutai Kartanegara, saat ini saya hanya ingin mereportasikan perjalanan wisata saya dan keluarga saja (ugh...senangnya.. ^_^ )

    ***

    Karena penasaran ingin tahu lebih banyak tentang kota yang termasyhur pada zaman dulunya itu, saya dan abahnya anak-anak akhirnya memutuskan liburan panjang kali ini dengan mengunjungi Kota Kutai Kartanegara.



    Berbekal peta dibarengi tanya kiri kanan, akhirnya kami berangkat juga menuju Tenggarong ibu kota Kutai Kartanegara.

    Hari itu Kamis 2 Mei, langit terlihat sedikit mendung, udara tidak begitu panas (ntah apa karena kami didalam mobil ber-ac ya..?). Kami berangkat menuju arah Samarinda. Memasuki daerah Kutai Kartanegara (Kukar), sepanjang jalan yang kami lewati penuh dengan lubang dibahu kiri-kanan jalan. Jarak tempuh dari Samarinda-Tenggarong sebetulnya kurleb 40 km-an, hanya saja karena jalanan yang rusak serta sempit membuat perjalanan kami terasa sangat lama. Rumah-rumah sederhana berdinding kayu menghiasi jalan yang terbentang disepanjang Sungai Mahakam. Tidak ada istimewanya perjalanan kami saat itu, bahkan saya sempat curiga, betul ga sih arah jalannya..? Soalnya melihat kondisi jalan yang begitu tidak terbayangkan dalam benak saya bahwa nun jau disana terdapat sebuah kota yang cukup terkenal akan keindahan jembatannya.

    Saya merasa kebenaran arah jalan yang kami tempuh ketika mulai memasuki Kota Tenggarong, ketika ruas jalan menjadi lebar -sangat lebar-, kontras dengan jumlah kendaraan yang melaluinya, jalan besar tersebut terlihat sedikit lengang jadinya.



    Karena capek dan lapar, akhirnya kami berputar-putar mencari penjual makanan. Menurut pengamatan saya, sepanjang jalan besar itu hanya ada satu rumah makan yang terlihat paling besar diantara warung makan lainnya, yaitu : RM Padang (ugh.. nggak lah, jau-jauh ke Tenggarong masa maemnya masakan Padang sih..., secara kami dah kenyang makan masakan Padang semasa masih tinggal di Duri - Riau gitu lho...). Akhirnya kami memutuskan untuk makan ditempat lain, dan warung masakan Banjarlah yang kami pilih. Tempatnya kecil tetapi terlihat lebih bersih dibanding warung lainnya. Menu yang ditawarkan tentunya khas Banjar lah. Karena baru pertama kali makan masakan Banjar, jadi rasanya masih agak asing dilidah, tapi teteeppp habiss dong (wah ini karena lapar apa gembul ya..?hehe). Selesai makan, kami langsung menuju Hotel Singgasana (hotel terbesar satu-satunya-untuk saat ini), letaknya diatas perbukitan, dari hotel itu terlihat pemandangan Kota Tenggarong dan hutan disekitarnya.




    Seperti halnya di pusat kota, suasana di hotel inipun sangat sepi, sepintas seperti hotel yg sedang tutup, tapi karena melihat sekuriti yang menjaga gerbang, dan beberapa motor karyawan yang terparkir, saya merasa ada segelintir orang didalamnya. Karena nggak ada penjaga pintu hotel, sambil celingukan saya membuka pintu tersebut, mencari para pegawai hotel didalamnya. Sunyi senyap yang terlihat. Beberapa detik kemudian salah satu resepsionis hotel itu akhirnya menyembul juga dari balik meja kayu besar didepannya. Sambil menyapa dengan senyum yang dibuat seramah mungkin "selamat sore bu..ada yang bisa saya bantu..?". Fhh... lega jadinya, ternyata ada juga orang di hotel itu.

    Melihat dari bentuk dan isinya, sepertinya hotel ini masuk kategori hotel berbintang, berdasarkan plakat peresmian yang dipasang didinding, hotel ini diresmikan tahun 2003 yang lalu oleh wapres Hamzah Haz. Mungkin karena pengunjungnya yang sedikit, jadi pemasukannya pun sedikit juga, menjadikan hotel ini terlihat terbengkalai.


    Malam harinya, setelah puas beristirahat, kami keluar untuk berjalan-jalan dan cari makan. Dari atas bukit, pemandangan Kota Tenggarong pada malam hari terlihat sangat cantik, lampu-lampu hias kota dan lampu sepanjang jembatan begitu berkilau keemasan, tidak disangka pemandangan kota yang kami lihat disiang hari sunguh jauh beda dengan apa yang terlihat pada malam hari. Dengan perasaan senang dan sedikit merasa romantis, kami meluncur turun menuju pusat kota.



    Lampu-lampu hias berukuran besar beraneka bentuk dan warna menghias gedung-gedung pemerintahan yang berdiri megah sepanjang jalan besar. Begitu juga lampu-lampu penerangan sepanjang jembatan yang menghubungkan dua wilayah kota yang terpisah oleh Sungai Mahakam. Yang menariknya yaitu ditengah-tengah sungai terhampar sebuah pulau kecil, konon katanya pulau itu dulunya adalah sebuah kapal yang karam, kemudian berubah menjadi pulau, Pulau itu bernama Pulau Kumala, luasnya kurang lebih 8 Hektar, dikelilingi oleh pohon2 kecil juga beberapa wahana permainan, seperti sky tower, kereta gantung, boom-boom car, kereta api mini, ada juga beberapa cottage kecil yang dikelilingi oleh danau buatan, rumah adat dayak, dan replika candi lembuswana, sayangnya kurangnya biaya perawatan membuat hampir semua wahana permainan itu rusak, begitupun dengan cottage dan danau buatannya, terlihat sangat kotor dan terbengkalai. Untuk mencapai Pulau Kumala, kita bisa menyewa perahu motor kecil yang tersedia sepanjang pinggir sungai Mahakam, ongkosnya hanya Rp. 20.000 untuk sekali jalan. Sedangkan untuk biaya masuk pulau, kita dikenai biaya Rp. 5.000/ orang (kalau tidak salah). Disana juga tersedia mobil rekreasi dengan sopir sebagai pemandunya. Hanya dengan biaya Rp. 20.000/ mobil (ini diluar tip untuk pemandu yaa..) kita bisa berkeliling semua bagian pulau.





    Selain Pulau Kumala, tempat rekreasi lainnya yang kami kunjungi yaitu Museum Mulawarman, Museum ini terbuka untuk umum, buka setiap harinya mulai dari jam 8 pagi sampe jam 4 sore, kecuali hari Jum’at buka hanya setengah hari saja, dengan ongkos masuk Rp. 2.500/ org dewasa kita bisa melihat kebudayaan rakyat Kutai mulai dari zaman dahulu sampai sekarang. Didalam Museum kita bisa melihat beberapa replica yupa berbahasa sansakerta serta patung sisa peninggalan jaman Kutai, ada juga beberapa foto2 sultan Kutai yang memerintah, pernak – pernik masyarakat pribumi (dayak) dan banyak lagi. Dibelakang Museum terdapat mesjid serta kompleks pemakaman sultan Kutai. Untuk yang ingin berburu souvenir jangan khawatir ya.., karena di belakang kompleks pemakaman raja-raja Kutai kita bisa menemukan beberapa kios yang menjual cendramata khas Dayak, ada juga beberapa batu mulia yang dijual disana, cuman namanya juga ditempat wisata, jadi harga yang dijual memang agak lebih mahal lah. Disamping Musium Mulawarman terdapat gedung planetarium, sayangnya saat kami berkunjung kesana, tempat itu sedang dalam perbaikan.



    Setelah puas berkeliling Kota Tenggarong, waktu menunjukan jam 4 sore, abah memutuskan untuk kembali menginap, hanya saja kali ini kami akan menginap di Samarinda. Kota Samarinda lebih semerawut dan kotor dibanding Balikpapan, tidak banyak papan petunjuk jalan disana, jadi bagi kami sebagai tamu sangat menyulitkan kondisi seperti itu. Lebih 1 jam lamanya kami berputar-putar mencari hotel. Akhirnya abah membeli sebuah peta Samarinda di dekat lampu merah. ½ jam kemudian akhirnya kami sampai juga di Hotel Bumi Senyiur. Sebuah tempat yang lumayan menyenangkan untuk bermalam.



    Besoknya, menjelang siang, kami pulang kembali ke Balikpapan. Ditengah perjalanan kami beristirahat dan makan siang di RM. Tahu Sumedang, warungnya cukup luas, dengan lahan parkir yang lumayan luas juga. Suasana yang masih asri dan sejuk, penuh dengan pepohonan, ditambah alunan musik gending sunda dan sajian makanan khas sunda yang uenaakk pisan, membuat siapapun akan merasa ingin kembali makan disana. Setelah makan siang dan sholat dzuhur, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Balikpapan, tempat baru kami menaruh harapan.





    Baca selengkapnya......

    Rabu, April 16

    Pesta kecil untuk abah






















    Dua hari yang lalu ada 'pesta kecil' dirumah gunung. Pesta kecil itu diadakan untuk menyambut hari ulang tahun abah.







    -Seperti biasanya- kue ulang tahunnya ibu yang membuat, sejak siang ibu memang sangat sibuk mempersiapkan kue ultah untuk abah. Tadinya ibu ingin memberi kejutan untuk abah, tetapi karena kue ultahnya belum selesai saat abah pulang dari kantor, jadi batal deh rencana 'kejutan'nya itu.










    Saat itu ibu membuat dan menghias 2 buah kue, satu untuk dimakan rame-rame di 'pesta kecil', satu lagi untuk dibawa abah ke kantor bersama kue-kue lainnya yang sudah ibu pesan dari mbak ika (temen ibu).












    Malam harinya, setelah seluruh keluarga somantri berkumpul, abang memberi hadiah sebuah kartu ucapan yang dibuat oleh abang sendiri menggunakan crayon warna kesukaannya. Sementara tahun ini ibu tidak memberikan kado apapun. Sebetulnya seminggu sebelumnya ibu sudah membeli 2 buah buku yang akan ibu hadiahkan untuk abah, tetapi karena penasaran ingin tahu isi buku tersebut, akhirnya sebelum buku2 tersebut dibungkus kertas kado, ibu telah membacanya terlebih dahulu, akhirnya ibu tidak jadi memberi kado buku itu untuk abah, karena abah sudah keburu melihat kedua buku tersebut. Saat diceritain hal itu pada abah, abah cuman seyum-senyum aja, sambil bilang "gak papa...abah nggak minta dihadiahin apa-apa kok.." katanya sambil tersenyum.






    " tapi.. nanti saat ibu ulang tahun ibu ingin dikasih hadiah ya.." pinta ibu agak malu. "ih..ibu..." sahut abah sambil tertawa.











    Tidak ada perayaan meriah, nggak ada teman yang diundang, kue yang dihidangpun seadanya saja, tapi mudah-mudahan 'pesta kecil' yang ibu rancang bersama abang fathir membekas dihati seluruh anggota keluarga somantri, khususnya abah yang berulang tahun malam itu.












    "selamat ulang tahun abah kami tersayang, semoga panjang umur, sehat terus, dan selalu dirahmati Alloh SWT..."

    Baca selengkapnya......

    Senin, April 7

    Ke pantai Manggar

    Pilihan rekreasi bagi abang dan adek di hari libur -seperti biasanya- adalah : berenang di pasir ridge? (kolam renang) atau berenang di pantai Manggar? dan seperti biasanya juga abang selalu menjawab : Ke Pantai Manggaaaaarrrr..!! sambil berteriak kegirangan disusul jeritan kecil adek yang memekakan telinga terpengaruh oleh suasana hati abang fathir.








    Dan seperti hari sabtu/ minggu sore sebelumnya, keluarga somantri kembali berangkat menuju pantai Manggar. Jam menunjukan pukul 4.30 sore, langit masih terang ke-emasan, sinar mataharipun masih terasa sedikit panas dikulit. Beberapa perbekalan seperti handuk, baju ganti, shampo, dan plastik besar selalu memenuhi tas hitam favorit perjalanan.






    Ibu duduk di jok depan, abang, adek, dan si mbak duduk di jok tengah. Mulut abang tak henti-hentinya berceloteh, apa saja yang abang lihat selalu ditanyakan atau dikomentari, sesekali adek ikut menimpali dengan kalimat yang tidak begitu jelas, kadang adek asyik bernyanyi kecil sendirian, tanpa menghiraukan suara abang yang memenuhi mobil.






    Tiba di Pantai Manggar, waktu hampir menunjukan jam 5 sore, sinar matahari mulai menghangat. Ujung-ujung daun kelapa dan pepohonan lainnya yang tumbuh subur disepanjang pantai melambai-lambai tertiup angin. Mobil dan motor para pengunjung tersusun memenuhi tempat parkir, para penjual makanan berderet sepanjang area parkir yang tertata rapi, ada soto, ikan bakar, coto makasar, bakso, es kelapa, pecel, dan jajan anak, kadang ada juga yang menjual cendera mata berupa kaos atau gelang dan kalung batu. Beberapa pengunjung bergerombol dibawah naungan pohon, duduk bersila diatas tikar sewaan, beberapa diantaranya membawa bekal makanan dari rumah. Yang lainnya ada yang bermain bola, berjalan tanpa arah menyusuri pantai, berenang, atau naik perahu sewa.






    Abang dan adek langsung berhamburan keluar dari mobil menuju pantai yang berombak tenang, hamparan pasir nan putih terasa hangat menutupi jari-jari kaki. Tidak lama kemudian abah, adek, abang langsung menceburkan diri kedalam air yang juga terasa hangat. Sementara ibu asyik dengan kameranya, kadang ibu hanya duduk menonton dipinggir pantai sambil memesan es kelapa tawar kesukaannya.






    Setelah bosan berenang, abang dan adek biasanya bermain pasir, sambil mengumpulkan ‘kumang’ -binatang kecil yang bercapit dan memiliki cangkang- disepanjang bibir pantai. Awal abang selalu membawa semua kumang hasil perolehannya itu kerumah, tetapi nasib si kumang itu selalu berakhir tragis, mati didalam gelas plastik sambil mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Setelah itu, ibu melarang abang untuk membawa kumang ke rumah, jadi sebanyak apapun hasil tangkapannya, abang dan adek akan melepaskannya lagi dipantai, sambil berharap para kumang yang imut itu akan segera menjadi besar.






    Menjelang maghrib, langit pun menjadi semakin gelap, para pengunjung mulai meninggalkan pantai, demikian juga dengan keluarga somantri, pulang dengan hati senang.

    Baca selengkapnya......

    Kamis, Maret 20

    si bawel


    Julukan ini cocok buat adek karan. Sudah beberapa bulan ini adek semakin pandai berbicara -walaupun kadang masih cadel-. Padahal umur adek belum 2 tahun. Apa aja yang adek dengar langsung diikuti. Bukan hanya satu atau dua kata saja, bahkan adek sudah bisa merangkai sebuah kalimat sederhana, seperti misalnya "ibu/abah/abang mana yah..?", atau "abang niii..mam duyu.." (abang sini mam dulu) saat ibu meminta adek memanggil abang untuk makan.



    Tidak hanya itu, kadang adek menyanyikan beberapa syair lagu, biasanya saat adek duduk dalam mobil. "bintang kicil, angit ....biyu..., dst", "bulung kaka tuaa..., gap deyaaa....dst" adek memang suka menyanyi, beberapa lagu anak-anak adek sudah hafal, tidak seluruh bait sih, tapi kalau bernyanyi bareng, adek mampu meyanyikan dari awal sampe akhir lagu, kadang beberapa iklan di TV pun kadang adek ikuti. Akhir-akhir ini sebelum menjelang tidur, sesaat sebelum adek mimi sama ibu, adek akan langsung bilang "citain..citainn..."

    (ceritain..ceritain) pintanya sambil melihat kearah ibu. Kata ini selalu adek dengar dari abang sebelum menjelang tidur. Memang salah satu kebiasaan ibu sebelum tidur adalah mendongeng untuk abang dan adek. Selama ini ibu berfikir hanya abang yang menikmati dongeng2nya ibu. Tetapi rupanya adekpun ikut menyimak juga. Wah bertambah deh orang yang meminta ibu untuk mendongeng nih..


    Jadinya sekarang hampir setiap menjelang tidur ibu mendongeng 2 kategori cerita. Satu dongeng untuk adek, dan dongeng satunya lagi untuk abang. Untuk adek ibu akan mendongengkan cerita yang lebih singkat dan mudah difahami, seperti misalnya "si kodok yang pandai melompat", "si kodok yang suka bernyanyi", dsb. Sedangkan untuk abang, biasanya dongeng yang diceritakan lebih panjang dan penuh dengan intrik (seperti yang di request abang selama ini) seperti misalnya " si ulat yang baik dan si ulat yang jahat", atau " si ujang yang rajin dan si bedu yang pemalas", dsb.


    Hingga suatu saat, ketika adek minta diceritakan sebuah dongeng, ibu balik nanya pada adek " memangnya adek mau diceritain apa..?" tanya ibu pada adek. "kodookkk..." sahut adek sambil tersenyum malu-malu. Ugh... adek... adek.. tambah pintar aja nih, bathin ibu gemas.

    Baca selengkapnya......

    Selasa, Maret 4

    Si gigi ompong


    Seminggu setelah bang fathir genap berusia 6 tahun, gigi bawah abang mulai goyang.




    "bu gigi bawahku sakit, goyang-goyang terus.." cerita bang fathir sambil mengaduh ketika ibu menyuapinya makan. "walah, coba bang ibu periksa.." sahut ibu sambil meraba-raba gigi bawahnya abang. Rupanya gigi tengah bawah memang sudah bergoyang, mungkin saatnya abang fathir dicabut gigi sudah tiba. Ibu langsung berfikir keras, gimana caranya abang mau dicabut gigi tanpa harus dipaksa dan tanpa meninggalkan trauma ya?








    Tiba-tiba saja ibu ada ide, saat ibu kecil dulu ada hal yang menarik ketika ibu harus dicabut gigi, saat itu mamah dan apa-nya ibu bilang "kalau gigi atas yang dicabut, nanti giginya harus dikubur, biar tumbuhnya lurus kebawah, tetapi kalau gigi bawah yang dicabut, maka si gigi yang copot itu harus dilempar ke atas atap, biar tumbuhnya lurus keatas". Jadi setiap gigi ibu mulai goyang yang difikirkan ibu adalah melemparnya atau mengubur si gigi itu. Walapun sakit dan selalu menangis setiap saat gigi ibu dicabut, tetapi ibu menjadi tidak sabaran untuk segera melakukan ritual setelah pencabutan.








    Dari situlah akhirnya ibu menceritakan kembali apa yg sudah ibu alami waktu kecil. Saat diceritakan hal tersebut hanya satu kata yg terucap dari mulut kecilnya : "aneh...!!!" komentar bang fathir sambil tersenyum lebar. Tetapi dari senyumannya itu ibu tahu bang fathir tertarik untuk segera melemparkan giginya ke atas atap rumah.






    ***






    Hari Sabtu siang, abang fathir sudah berpakaian rapi. Tidak biasanya abang fathir mandi dengan cepat. "ayo bu, katanya mau ke dokter gigi.." seru bang fathir, "iya.. sebentar.. ibu cari surat pengantarnya dulu.." jawab ibu sambil tersenyum.






    Jam 3 sore, ibu sudah sampai diklinik gigi, dan langsung mendaftarkan bang fathir. Karena tidak ada pasien, jadi bang fathir langsung dipanggil ke ruangan dokter gigi.



    Sesampainya diruangan, bang fathir terlihat sedikit ragu, bang fathir memang belum pernah masuk ke ruangan dokter gigi. Untung saja Pak dokter dan asistennya ramah sekali, sambil diajak cerita, tau-tau gigi bang fathir telah tercabut. "tuh ga sakit kan.." sahut pak dokter sambil mengusap-usap rambut abang. Bang fathir hanya tersenyum memperlihatkan bantalan kain kasa kecil digigi bawahnya.






    Gigi kecil yang yang sudah copot itu terbungkus plastik kecil, tangan bang fathir menggenggamnya erat. Sambil menjilati lelehan es krim yang ibu belikan sebagai hadiah, bang fathir berkata "bu, aku hebat kan.. ? abang ga nangis kan...?". "iya.. abang hebat, itu tandanya abang sudah besar. Besok lagi kalau gigi abang goyang, kita cabut lagi di om dokter yang tadi, om nya pandai jadi nyabut giginya ga bikin sakit." jawab ibu sambil memperhatikan arah jalan pulang. Bang fathir yang duduk disambing ibu, terus berbicara gak henti-henti memperlihatkan satu giginya yang hilang.






    Sesampainya dirumah, abang langsung berlari keluar mobil, "ayo bu, kita lempar giginya ke atas.." teriaknya, "tapi ibu yang melempar yah..." lanjutnya lagi. "iya, ibu yang lempar kali ini, tapi nanti abang yang melempar sendiri yah..." seru ibu sambil melempar gigi kecil abang ke atas genteng. Dan bang fathirpun tertawa senang.


    (adek nebeng pamer gigi juga yah..)

    Baca selengkapnya......